Penembakan di Thailand oleh remaja 14 tahun – 'Saya kabur dan memanjat pagar agar selamat'

Sumber gambar, REUTERS/Athit Perawongmetha
- Penulis, Redaksi BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Sedikitnya tujuh orang tewas dalam insiden penembakan diNonthaburi, Thailand, pada Jumat (07/08).
Pelaku yang diduga melakukan penembakan adalah seorang siswa laki-laki kelas 9 di Sekolah Debsirin Nonthaburi yang berusia 14 tahun. Menurut kepolisian, pelaku melepaskan tembakan ke arah guru dan rekan-rekan sesama siswa, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya.
Sejauh ini, korban tewas lainnya yang diketahui adalah lima guru di sekolah tersebut, serta kakek dan nenek pelaku di rumahnya.
Setidaknya 15 orang juga terluka dalam kejadian ini. Dua dalam keadaan kritis.
Video dari lokasi kejadian memperlihatkan staf sekolah bergegas mengevakuasi para siswa dari ruang kelas, sementara petugas kepolisian berupaya mencari pelaku penembakan.
Korban luka mendapat penanganan awal dari tim medis di lokasi sebelum dilarikan ke rumah sakit.
Insiden ini terjadi setelah penembakan lain di sebuah sekolah di Thailand selatan pada Februari lalu. Peristiwa tersebut kembali memicu pertanyaan mengenai mudahnya akses terhadap senjata api di Thailand, isu yang kini diperkirakan akan kembali menjadi sorotan.
Kepolisian Kerajaan Thailand dalam sebuah pernyataan menyatakan tengah melakukan penyelidikan atas insiden penembakan tersebut untuk mengungkap penyebab kejadian dan melanjutkan proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Apa yang diketahui soal pelaku sejauh ini?
Wakil Menteri Dalam Negeri Thailand, Polapee Suwanchawee, mengungkapkan bahwa pelaku terindikasi sangat gemar bermain gim, berdasarkan bukti yang ditemukan polisi di rumahnya.
Diketahui, pelaku selama ini tinggal bersama kakek dan neneknya.

Sumber gambar, Rungroj Yongrit/EPA/Shutterstock
Polisi menduga pelaku membunuh kedua kakek-neneknya sebelum berangkat ke sekolah.
Pistol kaliber 9 mm yang digunakan dalam aksi tersebut merupakan milik kakeknya, yang berprofesi sebagai guru, menurut keterangan polisi.
Seorang guru di sekolah tersebut mengatakan bahwa siswa itu dikenal sebagai "anak yang baik dengan prestasi akademik yang baik" serta tidak memiliki riwayat perilaku agresif.
'Saya tidak mengira itu suara tembakan'
Seorang siswa mengatakan kepada Reuters bahwa awalnya ia mengira suara tembakan saat insiden penembakan di sekolah itu adalah suara petasan atau seseorang yang sedang membenturkan sesuatu.
"Saya tidak mengira itu suara tembakan pada awalnya," katanya.
"Terdengar banyak letusan, 'dor dor dor'. Lalu suasananya hening. Setelah itu suara tembakan terdengar lagi."
Sejumlah siswa terlihat berlarian meninggalkan lokasi penembakan, sementara staf Sekolah Debsirin Nonthaburi tampak terpukul dan cemas saat menunggu di luar area sekolah.

Seorang siswi kelas 8 yang masih mengenakan seragam sekolah berbicara kepada jurnalis BBC News saat berdiri di samping ibunya, menunggu dijemput di sebuah kios makanan di seberang sekolah.
"Saya sedang berdiri di depan guru ketika beliau ditembak. Saat itu beliau sedang berbicara dengan saya ketika pelaku datang dan menembaknya," katanya.
"Saya tidak bisa melihat apa-apa selain kepulan debu. Dia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Meja saya sangat dekat dengan posisi guru. Saya terpaksa memanjat pagar sekolah untuk melarikan diri bersama teman-teman lain."
Siswi tersebut tampak masih dalam kondisi syok. Sang ibu mengatakan putrinya sempat berkata kepadanya, "Saya pikir saya tidak akan pernah bisa bertemu Ibu lagi."
Penembakan di sekolah kedua tahun ini, perdebatan soal pengendalian senjata api mencuat
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Jurnalis BBC, Jonathan Head, melaporkan dari Bangkok
Kami mendapat informasi bahwa pelaku penembakan tampaknya menargetkan para guru. Penembakan berlangsung sekitar satu jam sebelum pelaku, seorang siswa berusia 14 tahun di sekolah tersebut, terlihat menembakkan senjatanya ke dirinya sendiri.
Pacar salah satu guru yang tewas tampak sangat terpukul. "Hal ini seharusnya tidak terjadi," katanya kepada wartawan sambil berusaha menahan air mata.
Sekolah Debsirin Nonthaburi terletak di kawasan pemukiman dan komersial perkotaan yang luas di utara Bangkok. Banyak orang yang bepergian dari sini ke ibu kota.
Di daerah Nonthaburi, sekolah tersebut sangat dikenal sehingga insiden ini akan berdampak sangat mendalam bagi masyarakat setempat.
Peristiwa ini adalah penembakan di sekolah kedua di Thailand tahun 2026. Februari lalu, seorang kepala sekolah dan seorang siswi ditembak oleh seseorang berusia 18 tahun selama penyanderaan di sebuah sekolah di Thailand selatan.
Pada Oktober 2022, seorang warga berusia 34 tahun di provinsi Nong Bua Lamphu, Thailand timur, menewaskan 37 orang, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak prasekolah.
Masalah sebenarnya di Thailand, meskipun ada pembatasan kepemilikan senjata api, orang masih dapat memperoleh senjata tersebut–baik secara legal maupun ilegal–dengan relatif mudah.
Tingkat kepemilikan senjata api di Thailand salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Perdebatan mengenai pengendalian senjata api telah mencuat sebelumnya. Namun belum jelas apakah pemerintah telah mengambil tindakan signifikan untuk menekan kejahatan senjata api, sebelum peristiwa ini terjadi.































