Ratusan pelajar di Papua keracunan MBG – 'Ini seperti kasih makan binatang dalam kandang'

Papua, MBG

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Seorang pelajar di Jayapura yang menjadi korban keracunan paket MBG dirawat di RSUD Yowari, Rabu (05/08).
    • Penulis, Abraham Utama
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
    • Penulis, Ikbal Asra
    • Peranan, Jurnalis di Jayapura
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 11 menit

Ratusan pelajar di Kabupaten Jayapura, Papua, dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan sejak Selasa (04/08) hingga Rabu (05/08) kemarin. Sebelum keracunan massal terjadi, mereka menyantap menu Makan Bergizi Gratis dari dapur milik yayasan pimpinan Ketua DPC Partai Gerindra Jayapura, Edison Awoitauw.

Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, yang mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut, meminta maaf atas keracunan massal ini. Mereka mengklaim akan membayar biaya pengobatan seluruh siswa yang sakit seusai menyantap masakan mereka.

Polres Jayapura mengklaim telah memeriksa 30 orang, termasuk mereka yang mengoperasikan dapur SPPG milik Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menyebut pelanggaran prosedur merupakan pemicu keracunan massal di Jayapura.

Peristiwa keracunan massal ini terjadi di Kabupaten Jayapura yang daya tampung puskesmas dan rumah sakitnya terbatas. Penanganan sebagian pelajar yang mengalami diare dan nyeri perut hebat akibat menu MBG terpaksa dilakukan di tenda-tenda darurat.

Pelaksanaan MBG di Papua sejak awal diliputi pro-kontra. Berbagai demonstrasi menolak MBG telah dilakukan para pelajar di sejumlah daerah di Papua sejak awal 2025.

Namun kepala daerah di seluruh Papua menyatakan dukungan mereka terhadap program MBG.

Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Gizi Nasional mendirikan 2.500 dapur MBG di seluruh Papua dan menargetkan semuanya telah menyebarkan "makanan bergizi" pada 17 Agustus mendatang.

MBG

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Para pelajar dari Distrik Depapre ditangani di tenda darurat di halaman RSUD Yowari, Jayapura, Selasa (04/08).

Sebelum kejadian di Jayapura, kasus keracunan massal MBG awal Juli ini juga terjadi di Semarang, Jawa Tengah, dengan korban mencapai 707 pelajar.

Sejak Januari 2025 hingga April 2026 setidaknya 33.626 pelajar telah mengalami keracunan MBG, menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia.

Bagaimana cerita orang tua yang anak-anaknya keracunan?

Para pelajar yang menjadi keracunan makanan MBG berasal dari sejumlah sekolah di Distrik Depapre, Jayapura. Wilayah setara kecamatan di sisi utara Jayapura ini berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kabupaten. Jika berkendara menggunakan mobil, jarak itu dapat ditempuh kurang lebih selama satu jam.

Pada Selasa (04/08), warga Depapre bernama Dominggas mendapati cucunya menyantap makanan MBG. Cucunya merupakan peserta didik di sebuah sekolah Pendidikan Usia Dini (PAUD) di Depapre.

Hari itu cucu Dominggas sebenarnya sudah pulang dari sekolah, tapi anak tersebut kembali ke sekolah karena mobil pengantar MBG baru tiba setelah jam belajar-mengajar berakhir.

"Anak-anak sudah pulang, MBG baru masuk. Anak-anak bawa piring, datang lagi ke sekolah," kata Dominggas, saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari.

Sebelum kembali ke sekolah, kata Dominggas, cucunya sudah makan di rumah.

Saat cucunya hendak pergi, Dominggas berpesan, "buah boleh ambil, kalau yang kamu cium sudah rusak, kasih tinggal."

MBG, Papua

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Ruang perawatan terbatas memaksa RSUD Yowari membuat tempat rawat darurat. Para pelajar dalam foto ini beristirahat di atas kasur lipat milik tentara.

Namun ternyata cucu Dominggas hampir menghabiskan seluruh hidangan MBG "yang terlambat datang" itu. Informasi ini didapat Dominggas dari kawan-kawan cucunya.

"Nenek, dia tadi makan banyak," ujar Dominggas mengulang kata-kata teman sekolah cucunya.

Sore harinya, kepala cucu Dominggas berkunang-kunang. Kepalanya terasa berat.

"Saya cukur rambutnya, tapi tidak sembuh-sembuh," kata Dominggas. Perempuan paruh baya itu juga mencoba cara lain agar rasa sakit yang dialami cucunya mereda.

"Saya kasih minum air kelapa dan santan kelapa. Saya obati sendiri di rumah," ucapnya. Tapi upaya itu tak segera membuat cucunya sembuh.

Malam harinya, Dominggas meminta cucunya minum susu. Dia juga memberi cucunya pepaya. Setelah itu, kata Dominggas, cucunya buang air besar.

Satu hari setelah menyantap hidangan MBG itu, Dominggas berinisiatif membawa cucunya ke RSUD Yowari. Perawat hendak memasang infus ke lengan cucunya, tapi anak itu menolak.

MBG, Papua

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Perawatan terhadap korban keracunan paket MBG di RSUD Yowari, Selasa (04/08). Bukan hanya pelajar, guru dan juga sejumlah orang dewasa juga menjadi korban dalam kejadian ini.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Dalam keadaan lemas, cucu Dominggas berkata bahwa dia trauma.

"'Nenek, saya tidak mau makan MBG lagi'," ujar Dominggas menirukan ucapan cucunya.

Cucu Dominggas bukan satu-satunya pelajar di Depapre yang keracunan hidangan MBG. Sejak Selasa tengah malam, ambulans hilir mudik dari Depapre menuju Sentani—distrik di pusat Jayapura—membawa para pelajar lainnya juga juga keracunan.

Dominggas berkata, cucunya sudah mendapat jatah MBG sejak tahun lalu. Namun baru kali ini cucunya jatuh lemas karena hidangan yang diklaim "bergizi" tersebut.

Selama ini Dominggas melarang cucunya mengonsumsi MBG. Dia hanya membawa pulang makanan yang masih layak konsumsi.

"Ada singkong yang sudah mau busuk. Saya tahu cara masak, jadi yang saya punya masih lebih bagus. Ini seperti kasih makan binatang dalam kandang," kata Dominggas.

Dominggas berkata, cucunya akhirnya memang enggan menyantap MBG. Namun dia berpesan agar cucunya membawa pulang makanan MBG itu ke rumah.

"Kami berdua kasih makan itu untuk kami punya anjing di rumah," ujarnya.

'Warna tempenya beda'

Sophia, guru di sebuah sekolah dasar di Kampung Amai, Depapre, bilang murid-muridnya juga merasa pusing dan diare usai menyantap hidangan MBG, Selasa lalu.

Sophia, yang ditemui di RSUD Yowari, juga tampak lemas.

MBG, Papua

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Tenda darurat yang menampung para korban keracunan paket MBG di Jayapura, Rabu (05/08).

Sebelum keracunan massal terjadi, sekolahnya mendapat kiriman paket MBG berupa nasi, tempe, dan sayur. Namun saat Sophia membuka wadah makanan itu, dia melihat sesuatu yang janggal. Hidangan itu tak seperti yang biasa mereka terima sejak Oktober 2025.

"Warna tempenya berbeda dengan yang sebelumnya. Itu yang mungkin bikin kami seperti begini," kata Sophia.

Seusai memakan hidangan MBG itu, Sophia dan para muridnya pusing dan sakit perut. Awalnya Sophia menganggap kondisi itu "biasa-biasa saja". Namun akhirnya dia memutuskan untuk memeriksakan diri ke RSUD Yowari.

Seorang pelajar di sebuah SMP di Kampung Dormena, Depapre, juga mengalami gejala serupa usai menyantap makanan MBG, Selasa lalu. Ibunya, Helmina, bilang perut anaknya "berputar-putar, mual, dan tak bisa buang air besar".

Helmina berkata, kondisi itu makin memburuk pada Rabu pagi kemarin, hampir satu hari setelah anaknya mengonsumsi hidangan MBG. Helmina bilang dia tak punya pilihan lain, kecuali membawa anaknya ke rumah sakit.

Di RSUD Yowari, anak Helmina mendapat infus. Dokter juga memintanya mengonsumsi obat. Setelah itu, kata Helmina, barulah sakit yang dirasakan anaknya mulai mereda.

Apa penyebab keracunan massal dan bagaimana rekam jejak dapur SPPG di Jayapura?

Polres Jayapura menyatakan mereka masih menunggu hasil uji laboratorium terhadapp sejumlah bahan pangan dan hidangan MBG yang tersisa dari dapur SPPG milik Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.

Namun Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menyebut keracunan massal ini terjadi akibat pelanggaran prosedur yang dilakukan pengelola dapur tersebut.

"Di Papua, kami lihat dari log [catatan] dapurnya, mereka memulai masaknya kecepatan. Jam 19.00 atau 19.30 hari sebelumnya, untuk diberikan pada hari berikutnya jam 11.00. Jadi itu sudah melanggar," kata Sudaryono di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (05/08).

Ketua Yayasan Kasih Iman Samuel Papua adalah Edison Awoitauw. Dia pernah menjabat Ketua DPRD Jayapura periode 2014-2019.

Edison kini satu partai dengan Kepala BGN, Sudaryono, di Gerindra.

Edison berstatus Ketua Dewan Pengurus Cabang Gerindra di Jayapura, sedangkan Sudaryono memimpin Dewan Pengurus Daerah Gerindra di Jawa Tengah.

BGN, MBG

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Kepala BGN, Sudaryono, menggelar konferensi pers di Jakarta, Rabu (05/08) untuk merespons sejumlah kasus keracunan yang dialami pelajar di sejumlah daerah.

Yayasan Kasih Iman Samuel Papua pertama kali menyalurkan menu MBG di Jayapura pada 14 April 2025. Sebanyak 953 paket MBG mereka berikan ke SMP Negeri 1 Sentani, dalam seremoni yang dihadiri Bupati Jayapura Yunus Wonda dan pimpinan Kodam Cenderawasih.

Pada seremoni itu, Edison Awoitauw berkata kepada pers bahwa yayasannya akan membuka 15 sampai 17 dapur. Setiap hari, kata dia, dapur milik yayasannya akan memproduksi sekitar 3.500 hingga 4.000 paket MBG untuk para pelajar di seluruh Sentani.

Edison berkata, di setiap dapur itu yayasannya akan mempekerjakan setidaknya 45 orang. Para pekerja di dapur tersebut menjalani pelatihan di Resimen Induk Kodam Cenderawasih sebelum mereka mulai memasak hidangan MBG.

Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menjenguk para korban keracunan di RSUD Yowari, Selasa lalu. Dia meminta agar pelaksana program MBG melakukan evaluasi.

"Ini harus menjadi evaluasi terbesar untuk pengelola MBG sendiri…tidak sekedar uang yang dikejar, tapi keamanan, kebersihan itu harus menjadi prioritas utama," ujarnya.

"Uang itu kita bisa dapat di mana saja, tapi bagaimana keselamatan anak-anak ini?" kata Yunus.

Apa tanggapan yayasan pemilik dapur MBG?

Advokat bernama Yansen Marudut berbicara kepada publik, mewakili Edison Awoitauw dan Yayasan Kasih Iman Samuel Papua. Dia menyatakan rasa "turut bersedih atas musibah ini" sekaligus meminta maaf kepada masyarakat.

Yansen berkata, dapur milik yayasan itu setiap hari memproduksi 2.200 paket MBG untuk disebar ke sejumlah PAUD, sekolah, dan posyandu di Distrik Depapre.

Setiap hari, klaim Yansen, dapur tersebut memasak paket MBG sesuai standarisasi yang ditetapkan BGN.

"Kami sudah lama melayani makanan ini. Jadi menu ini sebenarnya juga bukan satu kali dua kali kami berikan kepada anak-anak," kata Yansen.

"Terkait menu, semua ahli gizi sudah memberi informasi ke kami," ujarnya. "Kami menyerahkan sepenuhnya kepada SPPG dan juga tim di dapur tersebut," kata Yansen.

MBG, Papua

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Dapur SPPG milik Yayasan Kasih Iman Samuel Papua di Jayapura disegel kepolisian, Rabu (05/08).

Setelah kasus keracunana massal ini, Yansen bilang yayasannya akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban.

Yansen berkata, pihaknya juga akan mengikuti investigasi yang dilakukan kepolisian dan BGN.

"Kami pasti menyiapkan dua sampel setiap hari, sesuai standarisasi BGN, untuk pembuktian ketika terjadi persoalan," kata Yansen.

"Ini kan jatuhnya kejadian luar biasa, yang dialami anak-anak di Depapre," klaimnya.

'Pemerintah selalu jadi pemadam kebakaran'

Keracunan massal di Jayapura akibat MBG ini mencemaskan Windhu Pramono, pakar kesehatan masyarakat di Universitas Airlangga, Surabaya.

Dia berkata, fasilitas kesehatan di Jayapura, dan Papua pada umumnya, kerap kewalahan menghadapi gejolak kesehatan yang melibatkan banyak orang, seperti saat pandemi Covid-19.

Berdasarkan pantauan kami sejak Selasa hingga Rabu kemarin, ruang perawatan yang terbatas memaksa RSUD Yowari menggelar tenda-tenda darurat untuk merawat para pelajar yang mengalami keracunan.

"Yang kita alami di masa Covid kan semestinya jadi pelajaran, tentang kapasitas ruang perawatan dan situasi ketika terjadi lonjakan kasus. Untungnya ini tidak ada yang meninggal," kata Windhu via telepon.

Merujuk konsep dasar epidemiologi, Windhu menyebut paradigma utama yang harus dipegang pemerintah adalah pencegahan. Artinya, kata dia, "tidak boleh sampai terjadi keracunan massal."

MBG, Papua

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Seorang pelajar korban keracunan paket MBG dirawat di RSUD Yowari, Rabu (05/08).

Menurut Windhu, standar prosedur MBG di Papua atau wilayah dengan topografi dan infrastruktur serupa harus dibedakan dengan wilayah perkotaan. Windhu berkata, pelaksanaan MBG di Papua seharusnya tidak tersentralisasi—artinya satu dapur memasak dan mendistribusikan paket makanan untuk beberapa sekolah.

"Di Surabaya saja, yang akses transportasinya bagus, rata-rata paket MBG butuh lebih dari enam jam untuk sampai ke mulut siswa. Apalagi di Papua?" kata Windhu.

"Makanya, dapur SPPG yang mengolah 2.500 sampai 3.000 paket MBG itu keterlaluan. Mengapa tidak didesentralisasi ke kantin-kantin sekolah?

"Yang terjadi sekarang ini kita memadamkan kebakaran. Sebagai orang yang belajar ilmu kesehatan masyarakat, hal yang paling utama adalah pencegahan," ujar Windhu.

Menanggapi sejumlah keracunan massal akibat paket MBG, Kepala BGN Sudaryono menyebut telah melakukan evaluasi. Dia mengeklaim, BGN selalu menindaklanjuti kasus keracunan yang terjadi.

Dalam rangka evaluasi itu, Sudaryono bilang BGN akan menutup dapur SPPG untuk sementara waktu, sembari menguji sampel makanan yang diduga bermasalah.

"Setiap kejadian itu, dapurnya di-suspended, kemudian makanannya dicek di lab oleh Dinas Kesehatan, di bawah pengawasan dari Kementerian Kesehatan," kata Sudaryono.

"Kami a akan cari tahu, kemudian kepala SPPG kami copot, kami investigasi sebetulnya keracunannya karena apa," ujarnya melalui keterangan tertulis kepada pers.

BGN, Papua, MBG

Sumber gambar, Sekretariat Presiden

Keterangan gambar, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan seluruh gubernur dan bupati dari setiap daerah di Tanah Papua di Istana Negara, Jakarta, Desember 2025. Dia meminta para kepala daerah itu menyukseskan program yang dia rancang di Jakarta.

Dalam konteks penanganan keracunan massal ini, Pemkab Jayapura mengklaim mampu mengatasi kegawatdaruratan yang terjadi.

Kepala Dinas Kesehatan Jayapura, Anton Mote, menyebut penanganan pertama para korban keracunan dilakukan di sejumlah puskesmas di Depapre, alih-alih memusatkannya ke RSUD Yowari.

Di setiap puskesmas di Jayapura, kata Anton, terdapat dokter dan perawat yang bertugas 24 jam.

Anton berkata, langkah itu diambilnya untuk mencegah penumpukan pasien di RSUD Yowari—walau realitasnya rumah sakit itu tetap membuka beberapa tenda darurat.

"Dalam kondisi pelayanan biasa saja, dengan keterbatasan sarana dan prasarana, kami tidak bisa menampung," ujarnya.

"Maka kami tidak melakukan rujukan ke RSUD Yowari pada penanganan awal. Kami tahu kalau penanganan awal kami lakukan di RSUD Yowari, pasti akan terjadi penempukan luar biasa," tuturnya.

Anton mengklaim, untuk mencegah penumpukan korban keracunan, pihaknya menyebar rujukan para pasien yang membutuhkan dokter spesialis ke rumah sakit lainnya, seperti RS Dian Harapan, RS Umum Pusat Jayapura, dan RS Marthen Indey.

Walau Yayasan Kasih Iman Samuel Papua berjanji membayar setiap biaya pengobatan korban keracunan, Anton menyebut pemerintah Jayapura telah bersepakat dengan berbagai rumah sakit itu terkait pembiayaan yang ditanggung APBD.

"Kami sudah anggarkan di Dinas Kesehatan, maka pada insiden ini kami tidak mendapatkan kesulitan dalam merujuk pasien yang gawat darurat itu. Kami sudah ada dasar MoU [kesepakatan] dengan rumah sakit," kata Anton.