Penelitian terbaru salju terakhir Papua – 'Orang Papua tak menyumbang gas rumah kaca, tapi kehilangan situs paling sakral mereka'

Sumber gambar, Marie Sabacka
- Penulis, Abraham Utama
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 11 menit
Lapisan es di sekitar Puncak Carstensz kini tersisa 16 hektare dan diyakini akan segera mencair seluruhnya pada akhir 2026 atau awal 2027, menurut riset terbaru Badan Meteorologi Dunia (WMO).
Lapisan es pada sejumlah puncak gunung di Papua selama berabad-abad telah disebut sebagai salju abadi.
Bukan hanya di Puncak Carstensz yang disebut orang adat Amungme sebagai Nemangkawi, lapisan es atau gletser juga pernah menutupi berbagai puncak di deretan pegunungan tengah Papua.
Puncak salju itu antara lain Puncak Mandala—atau Aplim Apom dalam bahasa komunitas adat Ngalum—dan Puncak Trikora alias Ettiakup menurut masyarakat adat Hubula.
Seluruh puncak berlapis es itu telah mencair, kecuali di sekitar Puncak Carstensz.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Marie Sabacka, pakar ekologi gletser di Departemen Ekologi Charles University, Republik Ceko, naik ke sekitar Puncak Carstensz, Maret lalu. Dia merupakan salah satu peneliti terakhir yang datang dan meriset salju terakhir di Papua dan wilayah Pasifik.
BBC News Indonesia berbincang dengan Marie tentang berbagai hal dalam penelitiannya. '
Dia juga bercerita tentang pengalamannya menginjakkan kaki di lapisan es yang telah menjadi salah satu episentrum "perlombaan menuju puncak salju" selama satu setengah abad terakhir.
Berikut petikan wawancara tersebut:
Apa temuan Anda dari riset tentang gletser di Puncak Carstensz? Perubahan apa yang telah terjadi, apa yang memicu pencairannya, dan berapa lama gletser tersebut akan bertahan?
Penelitian saya berfokus pada kehidupan di ekosistem gletser.
Pada Maret 2026, saya bersama Roberto Ambrosini dari Universitas Milan melakukan penelitian lapangan di Gletser East Carstensz. Ini adalah bagian dari kolaborasi lebih luas yang melibatkan ilmuwan Indonesia dan Eropa.
Kami mengumpulkan sampel inti es dangkal dan sedimen gelap dari gletser, serta tanah di sekitarnya. Tujuan kami adalah mengetahui organisme apa saja yang masih hidup di sana.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Hasil penelitian kami masih bersifat awal, tapi menunjukkan bahwa sisa es tersebut tidak kosong secara biologis.
Es ini menjadi habitat bagi komunitas mikroorganisme dan hewan mikroskopis yang khas, termasuk garis keturunan yang jarang ditemukan atau tidak ada di banyak gletser lain dalam kumpulan data global kami.
Oleh karena itu, hilangnya gletser di Puncak Carstensz berarti hilangnya sebuah ekosistem unik yang belum banyak dipahami.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Kami tidak mengukur sendiri penyusutan fisik gletser tersebut karena itu telah didokumentasikan oleh para peneliti lain menggunakan citra satelit, survei udara, dan peta historis.
Di seluruh sistem gletser Puncak Carstensz, lebih dari 99% es yang ada sekitar tahun 1850 telah hilang (Ibel dkk. 2025). Sekarang hanya tersisa sekitar 16 hektare.
Hilangnya lapisan es bahkan telah mengubah kondisi fisik pegunungan itu sendiri.
Pada 1936, puncak Ngga Pulu yang tertutup es lebih tinggi daripada Puncak Carstensz.
Seiring hilangnya es, ketinggian Ngga Pulu berkurang sehingga menjadikan Puncak Carstensz sebagai puncak tertinggi di Oseania.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Penyebab utama penyusutan gletser adalah pemanasan atmosfer jangka panjang akibat aktivitas manusia. Suhu yang lebih tinggi menaikkan batas ketinggian titik beku, yang berarti lebih banyak curah hujan turun sebagai air hujan alih-alih salju.
Peristiwa El Nino dapat mempercepat hilangnya es, sementara curah salju, tutupan awan, radiasi matahari, dan bentuk gunung memengaruhi seberapa cepat proses tersebut terjadi.
Tahun pasti hilangnya gletser ini tidak dapat diprediksi, tapi sisa es yang ada kini sangat sedikit sehingga kemungkinan besar seluruhnya akan hilang dalam beberapa tahun mendatang.
Sejauh mana masyarakat adat Papua harus merasa khawatir dengan situasi ini?
Menurut saya, bukan wewenang saya sebagai akademisi dari luar untuk menentukan seberapa besar masyarakat adat Papua harus khawatir atau bagaimana mereka seharusnya memaknai hilangnya es tersebut. Makna budaya dan spiritual adalah hal yang semestinya dijelaskan oleh masyarakat setempat sendiri.
Yang bisa saya jelaskan adalah kemungkinan dampak fisik dan ekologis dari hilangnya es tersebut. Gletser yang sekarang tersisa ukurannya sangat kecil, sementara wilayah di sekitarnya menerima curah hujan yang tinggi.
Oleh karena itu, gletser tersebut bukanlah sumber air utama bagi masyarakat setempat.
Hilangnya gletser ini kemungkinan tidak akan menyebabkan kelangkaan air, seperti yang diperkirakan terjadi di wilayah pegunungan kering yang sangat bergantung pada air lelehan gletser, misalnya di sebagian wilayah Andes atau Himalaya.

Sumber gambar, AFP via Getty Images/Luis Robayo.
Namun akan ada dampak hilangnya aspek ekologis. Temuan kami menunjukkan bahwa gletser tersebut menopang komunitas mikroorganisme dan hewan mikroskopis yang khas. Mereka akan punah seiring dengan menyusutnya gletser.
Hilangnya es ini juga merupakan tanda yang sangat nyata dari perubahan iklim yang jauh lebih luas.

Sumber gambar, Dokumen warga
Di dataran tinggi Papua, perubahan suhu dan curah hujan—termasuk kekeringan, hujan ekstrem, dan embun beku yang merusak tanaman saat terjadi fenomena El Nino yang kuat—dapat memengaruhi kebun dan hasil pertanian, sehingga produksi pangan menjadi sulit diprediksi.
Berbagai perubahan itu mungkin lebih berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat dibandingkan hilangnya pasokan air lelehan gletser secara langsung.
Baca artikel sebelumnya: Hujan es dan embun beku lagi-lagi picu krisis pangan di Papua – 'Gudang logistik yang dijanjikan sebagai solusi oleh pemerintah selalu kosong'
Menurut pendapat saya, gletser ini memiliki makna yang melampaui ukuran fisiknya. Gletser ini merupakan peringatan nyata bahwa lingkungan di sekitarnya sedang berubah.
Ada pula ketidakadilan yang mendalam dari seluruh proses yang sedang terjadi ini: masyarakat adat Papua memberikan kontribusi sangat kecil terhadap emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global, tapi mereka justru menyaksikan perubahan lanskap mereka sendiri yang bersifat permanen dan tak dapat dipulihkan.
Berdasarkan penelitian terhadap gletser lain, termasuk yang berada di Arktik, bagaimana kita sebaiknya memahami hilangnya gletser di Papua?
Proses dasarnya bersifat global: gletser menyusut seiring dengan memanasnya atmosfer. Namun, dampak hilangnya gletser sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.
Massa es yang sangat besar di Greenland dan Antartika memengaruhi permukaan laut global, yang berdampak pada masyarakat pesisir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Sisa lapisan es di Papua ukurannya terlalu kecil untuk memberikan pengaruh yang terukur terhadap permukaan laut ataupun pasokan air regional. Arti pentingnya terletak pada aspek lain.

Sumber gambar, Leiden University Libraries
Gletser ini merupakan sistem gletser tropis terakhir di Pasifik barat, habitat biologis yang terisolasi, arsip iklim masa lampau, serta bagian dari lanskap yang memiliki nilai budaya penting.
Data biologis global kami juga menunjukkan bahwa gletser tidak bisa saling menggantikan. Komunitas hayati di dalam satu gletser cenderung lebih mirip satu sama lain dibandingkan dengan komunitas di gletser lain, dan gletser yang terisolasi secara geografis dapat menyimpan garis keturunan hayati yang jarang ditemukan di tempat lain.
Gletser lain tidak bisa begitu saja menggantikan East Carstensz sebagai habitat bagi komunitas hayati yang telah berkembang di sana.
Seberapa pentingkah memahami gletser di Papua untuk memahami perubahan iklim?
Papua memperlihatkan bagaimana perubahan iklim bekerja mendekati batas fisik. Di wilayah khatulistiwa, es atau salju abadi hanya dapat bertahan pada ketinggian yang sangat tinggi dan dalam rentang kondisi iklim yang terbatas.
Kenaikan suhu yang relatif kecil, peningkatan ketinggian batas beku, atau peralihan dari hujan salju ke hujan air dapat menentukan apakah suatu gletser mampu bertahan atau tidak.
Papua terletak di dalam kawasan Western Pacific Warm Pool, yang merupakan bagian penting dari sistem iklim global dan perkembangan fenomena El Nino.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Oki Budhi
Inti es dari Puncak Carstensz menyimpan informasi mengenai kondisi Pasifik tropis di masa lampau. Karena sisa es tersebut mencair baik di permukaan maupun dari bagian bawah, arsip itu kini musnah sebelum para ilmuwan sempat mempelajarinya secara menyeluruh.
Dengan demikian, gletser-gletser ini menghubungkan berbagai aspek perubahan iklim di satu lokasi.
Penyusutannya mencatat pemanasan jangka panjang, lapisan esnya menyimpan bukti iklim masa lalu, dan hilangnya gletser tersebut melenyapkan habitat biologis sekaligus bagian dari lanskap yang memiliki nilai budaya penting.
Apa yang membuat Anda memutuskan untuk meneliti Puncak Carstensz?
Gletser di wilayah tropis memiliki perbedaan mendasar dibandingkan dengan massa es kutub yang luas. Gletser ini mengalami variasi suhu musiman tahunan yang relatif kecil, tapi memiliki siklus harian yang kuat—sering kali membeku pada malam hari dan mencair pada siang hari.
Gletser ini juga eksis sebagai habitat ekologis yang terisolasi, terpisah dari wilayah gletser lainnya oleh jarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Meski begitu, aspek biologinya jauh lebih jarang diteliti dibandingkan dengan gletser di wilayah kutub atau wilayah dengan ketinggian menengah.
Papua memiliki arti yang sangat penting karena menyimpan sisa es tropis terakhir di antara wilayah Andes dan Himalaya.

Sumber gambar, Getty Images/Rodrigo Valle

Sumber gambar, AFP via Getty Images/Xavier Galiana
Terdapat catatan pengamatan biologis yang berharga dari berbagai ekspedisi pada tahun 1970-an, tapi hampir tidak ada deskripsi yang menggunakan metode molekuler modern.
Kami memiliki kesempatan langka untuk mendokumentasikan kehidupan yang ada di sana saat ini, membandingkannya dengan data pengamatan historis, serta menempatkan East Carstensz dalam cakupan studi global kami yang lebih luas mengenai ekosistem gletser, mulai dari wilayah tropis hingga kutub.
Faktor urgensi juga memegang peranan besar yang mendorong saya melakukan penelitian ke Puncak Carstensz, mengingat gletser itu diprediksi akan lenyap dalam beberapa tahun ke depan.
Bagaimana pengalaman Anda saat mendaki Puncak Carstensz dan melakukan penelitian di sana? Seberapa sulit mendapatkan izin dan akses ke gunung tersebut? Bagaimana perbandingannya dengan pengalaman Anda sebelumnya di belahan dunia lain?
Perlu saya jelaskan bahwa tujuan kami bukanlah mendaki hingga ke puncak tertinggi Puncak Carstensz, melainkan melakukan penelitian ilmiah pada gletser yang tersisa.
Ini adalah salah satu ekspedisi tersulit yang pernah saya organisir, meskipun terutama karena alasan administratif dan logistik, bukan karena tantangan pendakiannya itu sendiri.
Sejujurnya, kami mungkin memulai proyek ini dengan sikap yang agak naif. Kami tahu bahwa urusan di Papua akan rumit, tapi kami tidak menyangka akan menghadapi banyaknya izin, lembaga, dan persyaratan hukum yang saling terpisah.
Jika sejak awal saya memahami besarnya waktu, biaya, dan ketidakpastian yang dibutuhkan, saya tidak yakin kami akan mencoba datang ke Puncak Carstensz.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Persiapan ekspedisi memakan waktu lebih dari 1.000 jam, namun bagian tersulitnya adalah ketidakpastian.
Proses perizinan begitu berbelit-belit—bagaikan labirin—sehingga meskipun saya mengurusnya terus-menerus selama berbulan-bulan, saya tidak bisa memastikan apakah prosesnya hampir selesai atau masih butuh waktu setengah tahun lagi.
Sementara itu, semua orang yang terlibat dalam rencana penelitian ini harus terus menyesuaikan kembali komitmen pekerjaan dan keluarga tanpa mengetahui apakah—atau kapan tepatnya—ekspedisi akan terlaksana, sementara hari libur nasional (saat kantor pemerintahan tutup) dan akhir musim operasional helikopter semakin dekat.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Ada banyak malam yang saya lalui tanpa tidur, saat saya sempat serius mempertimbangkan untuk membatalkan semuanya dan berhenti mencurahkan waktu serta sumber daya untuk usaha yang begitu tidak pasti.
Namun karena kami sudah berinvestasi begitu banyak, kami terus melanjutkannya.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Kami harus terus mengubah rencana secara mendadak, misalnya saat konflik yang melibatkan Iran mengganggu rute penerbangan melalui Timur Tengah atau ketika peralatan ilmiah saya sempat hilang selama hampir seminggu dalam perjalanan menuju Papua.
Papua lebih hangat dibandingkan banyak lokasi kutub tempat saya pernah bekerja, tapi curah hujannya sangat tinggi dan tiada henti. Kami sering tiba di lokasi gletser dalam keadaan basah kuyup, lalu bekerja berjam-jam di tengah angin dingin dan kabut.
Saat kembali ke perkemahan, saya harus melakukan pekerjaan laboratorium yang menuntut kebersihan di dalam tenda yang bocor dan dikelilingi lumpur. Pada akhirnya, tidak ada satu pun barang kami yang kering, namun kami berhasil menjaga sampel tetap bersih dan beku.
Masalah yang lebih serius adalah faktor keamanan. Ini adalah kali pertama saya melakukan penelitian lapangan dengan pengawalan petugas keamanan.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Sayangnya, pada hari pertama kami di lokasi gletser, terjadi insiden penembakan fatal di area tambang Grasberg yang tak jauh dari situ, sehingga pergerakan kami dari perkemahan dibatasi—meskipun untungnya hanya untuk sementara waktu.
Baca artikel sebelumnya:Penembakan di tambang emas Grasberg – Mengapa pengamanan Freeport yang libatkan ribuan aparat dan berongkos triliunan rupiah bisa bobol?
Kendati demikian, kami hanya diizinkan mengunjungi Gletser East Carstensz, dan tidak diperbolehkan mendatangi sisa-sisa pecahan lapisan es Northwall Firn yang lama.
Berbagai sampel tersebut harus tetap dalam kondisi beku selama perjalanan dari perkemahan di dataran tinggi, melintasi dataran rendah tropis, hingga akhirnya tiba di Universitas Indonesia di Jakarta, tempat kami menghabiskan waktu seminggu untuk melakukan pra-pemrosesan.
Sebagian dari material tersebut, termasuk sampel es gletser yang telah diawetkan, masih tersimpan di Jakarta dan dapat dimanfaatkan oleh rekan-rekan kami di Indonesia.

Sumber gambar, Marie Sabacka
Ekspedisi ini berhasil berkat kontribusi banyak pihak: rekan sejawat dan mahasiswa di Universitas Indonesia, pemandu serta tim lapangan di base camp, petugas keamanan, petugas Taman Nasional Lorentz, pejabat pemerintah, serta banyak orang yang membantu dalam hal perizinan, transportasi, dan penyimpanan sampel.
Mereka semua sangat membantu. Tantangan utamanya bukanlah kurangnya dukungan, melainkan kerumitan dalam mengoordinasikan berbagai kebutuhan di wilayah yang terpencil, berstatus kawasan lindung, dan memiliki sensitivitas politik tinggi.
Dibandingkan dengan pekerjaan saya di wilayah kutub maupun pegunungan lainnya, penelitian di Papua tidak serta-merta menjadi yang paling berat secara fisik. Namun dari segi pengorganisasian, penelitian ini jauh lebih rumit dan penuh ketidakpastian.
Pada akhirnya, kami berhasil mengumpulkan sampel dan data pengukuran yang dibutuhkan. Mengingat banyaknya hal yang harus berjalan selaras agar semua ini terlaksana, keberhasilan tersebut terasa seperti sebuah keajaiban kecil.
































