Salju terakhir Papua – Jejak penaklukan serta kisah gunung sakral dari tiga generasi orang Amungme dan Moni

Elfrida Natkime

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Andra Anhar

Keterangan gambar, Elfrida Natkime, perempuan adat Amungme yang keluarganya memiliki hak ulayat di sekitar Nemangkawi.
    • Penulis, Abraham Utama
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 35 menit

'Salju abadi' di Papua diyakini akan meleleh seluruhnya pada 2027 karena suhu di wilayah Pasifik diprediksi akan segera mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.

Orang asli Papua akan kehilangan gunung berlapis es yang sangat sakral dalam spiritualitas mereka, "walau hampir tak berkontribusi apapun dalam menyebabkan pemanasan global".

BBC News Indonesia berbicara dengan tiga generasi berbeda dari komunitas adat Amungme di Mimika dan Moni di Intan Jaya tentang sejarah serta bayangan mereka tentang kehidupan tanpa puncak salju yang mereka anggap suci.

Prediksi terbaru tentang mencairnya tumpukan es atau gletser di Puncak Carstensz dipublikasikan Badan Meteorologi Dunia (WMO), Juli lalu. Di puncak inilah salju terakhir Papua berada.

"Pada Juli 2025, luas lapisan es diperkirakan hanya 0,1 kilometer persegi (sekitar 10 hektare), menyusut setidaknya 34% dari data yang dihimpun Agustus 2024," demikian bunyi laporan WMO itu.

WMO menyebut penyusutan ini konsisten dengan tren yang telah berlangsung lama, rata-rata penyusutan lapisan es adalah 0,07 kilometer persegi (tujuh hektare) per tahun pada periode 2016-2022.

Luas lapisan es yang tersisa di dua titik di puncak tersebut, Carstensz dan East Northwall Firn, pada 2025 diperkirakan hanya 2% dibandingkan luas tahun 1988.

"Ini adalah tahap akhir keberadaan gletser tropis di Indonesia, bahwa es yang tersisa diyakini akan hilang pada akhir 2026 atau awal 2027," begitu pernyataan WMO.

Merujuk perhitungan akademik sebelumnya, salju di puncak pegunungan yang disebut masyarakat adat Amungme dengan nama Nemangkawi itu akan lenyap pada 2030.

Salju Papua

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Lapisan es terakhir yang masih terlihat di sekitar Puncak Carstensz, pada akhir 2025.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Lenyapnya lapisan es Puncak Carstensz merupakan penanda bagaimana perubahan iklim terjadi di Papua dan berbagai wilayah yang mengapitnya, kata Marie Sabacka, pakar ekologi gletser di Departemen Ekologi Charles University, Republik Ceko. Dia mendaki dan meneliti glestser di Carstensz, Maret lalu.

Marie berkata, realitas yang terjadi pada Puncak Carstensz menunjukkan ketidakadilan sosial secara global.

"Masyarakat adat Papua berkontribusi sangat sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global, tapi mereka menyaksikan perubahan yang tidak terelakkan di ruang hidup mereka," kata Marie.

Kepunahan gletser di Nemangkawi secara spiritual akan berdampak kepada orang-orang Amungme—masyarakat adat yang selama ribuan tahun telah hidup di belasan lembah di kaki pegunungan ini.

"Nemangkawi bukan hanya gunung, tapi tempat peristirahatan orang tua dan leluhur," kata Elfrida Natkime, perempuan muda dari keluarga pemilik hak ulayat atas sejumlah kampung di dataran tinggi Mimika—salah satu kawasan pertambangan emas dan tembaga terbesar di dunia yang dieksploitasi PT Freeport Indonesia sejak 1969.

"Nemangkawi itu Hai Jogon—kedudukannya seperti surga," ujar Elfrida.

Puncak gunung bersalju itu tidak hanya sakral bagi masyarakat Amungme, tapi juga untuk masyarakat adat Hubula (sering disebut orang Dani) di sekitar Kabupaten Jayawijaya dan komunitas adat Damal di Kabupaten Puncak.

Kesakralan puncak berlapis es itu diakui pula oleh masyarakat adat Moni yang hidup di sisi utara puncak tersebut—kini dikenal sebagai Kabupaten Intan Jaya. Mereka menyebut puncak itu dengan nama Mbainggela, yang dalam bahasa Moni bermakna tempat suci atau gunung terlarang.

"Menurut pandangan orang Moni secara turun-temurun, Carstensz itu tempat suci," kata Magdalena Sondegau, perempuan di Distrik Sugapa, Intan Jaya.

"Dalam budaya kami, gunung itu dan daerah sekitarnya selalu kami sebut dalam nyanyian," ujar Magdalena, yang pernah bekerja sebagai pemikul barang untuk para pendaki yang hendak menginjakkan kaki di tumpukan es Puncak Carstensz.

Selama ribuan tahun sejumlah puncak bersalju di pegunungan tengah Papua telah menjadi bagian dari spiritualitas komunitas adat yang hidup di kakinya. Namun cara pandang berbeda mendorong orang-orang non-Papua untuk datang dan mendaki puncak-puncak itu.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Jos Donkers

Keterangan gambar, Lapisan es di Nemangkawi, termasuk Puncak Carstensz pada 1970.

Pada tahun-tahun pertama abad ke-20, sejumlah ekspedisi menuju Papua dirancang komunitas saintis Eropa, dengan pola pandang yang dianggap rasis.

Di tengah semarak alpinisme atau pendakian gunung-gunung salju yang menjangkiti para penjelajah Eropa, berbagai ekspedisi ke Papua itu ditujukan, salah satunya, untuk membuktikan kesaksian pelaut Belanda, Jan Carstensz. Dia mengaku melihat "deretan pegunungan berselimut salju" saat dia melepas jangkar di pesisir barat daya Papua pada 16 Februari 1623.

Dengan biaya dari lembaga Royal Netherlands Geographical Society, Hendrik Albert Lorentz terlibat dalam tiga ekspedisi ke Papua pada periode 1903 hingga 1913.

Lorentz memimpin dua ekspedisi terakhir, yang beranggotakan akademisi lintas ilmu, termasuk saat mereka mencapai puncak bersalju di wilayah yang kini disebut Kabupaten Jayawijaya. Komunitas adat Hubula mengenal puncak itu dengan nama Ettiakup, tapi Lorentz menyebutnya sebagai Wilhelminatop—yang merujuk nama Ratu Belanda saat itu.

"Adakah wilayah yang lebih menarik bagi ahli zoologi dan ahli botani selain kawasan ini, di mana kita menemukan transisi dari lanskap tropis di dataran menuju salju abadi," tulis Lorentz pada 1911—dua tahun setelah menginjakkan kaki di lapisan es puncak tersebut.

Puncak Trikora

Sumber gambar, Rijksvoorlichtingsdienst

Keterangan gambar, Ettiakup atau Wilhelminatop dipotret dari arah Danau Habbema. Pemerintah Indonesia memberi nama baru untuk puncak ini, yaitu Trikora, usai Pepera kontroversial pada 1969.

Jejak kaki Lorentz di Ettiakup menandai apa yang disebut sebagai "perlombaan menuju salju" oleh antropolog dan sejarawan. Tim ekspedisi pimpinan ornitologis Alexander Wollaston dua kali berusaha mendaki puncak salju lain di dekat Ettiakup pada rentang 1910-1912.

Pada ekspedisi keduanya, dengan pendanaan sebesar 9.000 poundsterling (kini setara Rp218 juta) dari Perkumpulan Ornitologis Inggris, Wollaston menjejakkan kakinya di lapisan es di bawah Puncak Carstensz, dengan bantuan tiga orang asli Papua yang menemaninya.

Salju Papua

Sumber gambar, Royal Geographical Society via Getty Images

Keterangan gambar, Alexander Wollaston, bersama penerjemahnya, Chhetan Wangdi, berada di bawah gua di Hutan Juniper saat menjelajah Gunung Everest pada 1921. Foto ini diabadikan satu dekade setelah Wollaston menginjakkan kaki di Papua.

"Perlombaan mencapai puncak salju" di Tanah Papua terus berlangsung, termasuk saat geolog asal Belanda, Jean Jaqcues Dozy, bersama dua rekannya—Anton Colijn dan Frits Wissel—mencapai Puncak Ngga Pulu pada 1936, yang kemudian menjadi cikal bakal pembukaan pertambangan emas dan tembaga oleh Freeport di Mimika.

Salju papua, puncak carstensz

Sumber gambar, Spaarnestad Photo

Keterangan gambar, Anton Colijn , Frits Wissel dan Jean Jacques Dozy berpose saat berada di atas lapisan es Ngga Pulu di dekat Puncak Carstensz pada 1936.

Satu puncak bersalju lainnya di Papua didaki sekelompok akademisi Belanda pada 1959. Puncak itu berada di berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Pegunungan Bintang.

Ekspedisi itu didorong ketertarikan besar para antropolg, biolog, hingga ahli pembuat peta yang ikut terlibat di dalamnya, terhadap wilayah yang mereka anggap misterius dan "tidak diketahui"—terra incognita.

Di ujung ekspedisi, mereka menamai puncak bersalju yang mereka daki di Pegunungan Bintang itu sebagai Julianatop. Ini adalah cara mereka untuk menghormati Ratu Juliana yang kala itu memimpin Belanda dan seluruh koloni jajahannya, termasuk Papua.

Puncak Mandala, Aplim Apom

Sumber gambar, Kantoor voor Voorlichting en Radio Omroep Nieuw-Guinea

Keterangan gambar, Pendakian Aplim Apom yang kemudian disebut sebagai Julianatop dan Puncak Mandala. Dua peneliti asal Belanda, Escher dan Tissing, dipotret saat melewati titik sulit selama pendakian lapisan es tersebut pada 1959.

Usai integrasi yang didahului Penentuan Pendapat Rakyat yang kontroversial pada 1969, pemerintah Indonesia memberi nama baru pada puncak itu: Mandala.

Namun masyarakat adat Ngalum yang hidup di kaki gunung itu sejak ribuan tahun menyebut nama puncak itu sebagai Aplim Apom. Seperti relasi orang Amungme dengan Nemangkawi, masyarakat Ngalum menganggap gunung dan puncak bersalju itu sebagai sesuatu yang sakral.

"Orang-orang setempat merasa memiliki koneksi yang sangat kuat dengan puncak itu. Bukan cuma orang Ngalum, tapi juga orang-orang adat lainnya di sekitar puncak tersebut," kata Sibbele Hylkema, pastor yang memimpin misi Katolik di Pegunungan Bintang sepanjang dekade 1960-an.

"Pegunungan ini adalah pusat dari kehidupan dan dunia mereka," tulis Hylkema.

Puncak mandala, salju papua

Sumber gambar, National Archief

Keterangan gambar, Potret Aplim Apom alias Julianatop atau Puncak Mandala yang tertutup salju di Pegunungan Bintang pada 1959.

Sejak saat itu berbagai ekspedisi orang-orang non-Papua silih berganti mendatangi puncak-puncak bersalju di Papua—yang seluruhnya berada di barisan Pegunungan Sudirman atau Nassau Range atau yang orang asli Papua sebut sebagai Dugunduguoo.

Klaus Thymann, penjelajah asal Denmark, adalah salah satu orang non-Papua yang baru-baru ini melakukan ekspedisi itu. Akhir 2025, dia menginjakkan kakinya ke Puncak Carstensz untuk membuat peta tiga dimensi gletser yang tersisa.

"Gletser telah berada di puncak itu selama berabad-abad. Menjadi saksi mata bagaimana lapisan es itu telah menyusut sungguh mencengangkan," kata Klaus.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Lanskap Puncak Carstensz diabadikan pada akhir tahun 2025.

"Ketika Anda berdiri di depan gunung itu dan melihat titik yang 10 tahun lalu berlapis es sekarang tak lagi memiliki gletser, Anda akan menyadari perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat," ucap Thymann.

"Saya tidak yakin apakah orang lain memahami hal ini, tapi saya berharap orang-orang bisa menyadari urgensi untuk melakukan sesuatu," tuturnya.

'Bapak jentikkan jari, kabut terbuka, dan kami bisa lihat Nemangkawi'

Elfrida adalah cucu tuan tanah pemegang hak ulayat atas wilayah pertambangan Freeport. Kakeknya bernama Tuarek Natkime, sedangkan ayahnya adalah Silas Natkime.

Walau menyandang marga Natkime, Elfrida yang lahir jelang pergantian milenium kedua, hanya menghabiskan empat tahun pertama dalam kehidupannya di Amungsa—istilah adat yang berarti "tanah orang-orang Amungme".

Sejak berumur empat tahun hingga tamat SMA, perempuan dari Generasi Z ini hidup di Bandung, Jawa Barat. Dia lalu pindah ke Oregon, Amerika Serikat—tempatnya menempuh pendidikan tinggi hingga saat ini.

Keluarga Natkime berasal dari lembah di kaki Nemangkawi. Leluhurnya secara turun-temurun hidup di atas tanah adat mereka.

Elfrida Natkime

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Elfrida Natkima bersama kerabatnya di Kampung Waa Banti pada 2025.

Elfrida belum lahir ketika pertambangan tembaga dan emas perlahan mengubah lanskap tanah leluhurnya selamanya.

Freeport mulai menggerus Ertsberg atau Gunung Bijih—orang Amungme menyebut gunung ini dengan nama Yelsegel-Ongopsegel—pada 1972, kemudian menambang gunung Grasberg alias Tengogoma tahun 1990.

Yelsegel-Ongopsegel dan Tengogoma merupakan dua gunung yang berada dalam gugusan pegunungan Nemangkawi.

Walau terpaut jarak ribuan kilometer, Elfrida menggali dan berusaha memahami asal usulnya.

Di Oregon dia belajar ilmu pertanian berkelanjutan—agar tidak hanya mengetahui tradisi etnobotani orang Amungme, tapi juga siasat adaptasi menghadapi berbagai perubahan yang dialami komunitas adatnya.

Puncak salju papua

Sumber gambar, Leiden University Libraries

Keterangan gambar, Lanskap pegunungan di tanah orang adat Amungme pada 1936. Foto ini memperlihatkan jalur sungai, termasuk Kali Aghawangon.

Dalam peristiwa sehari-hari dengan keluarga, Elfrida menggali relasi antara orang Amungme dan tanah mereka—termasuk juga Nemangkawi. Elfrida tidak pernah melupakan kejadian saat dia berjalan kaki bersama ayahnya, Silas, dari Kampung Waa menuju Tembagapura.

"Dari jam 9 pagi ke atas, kabut selalu sudah menyelimuti Tembagapura. Jalan di gunung itu agak curam, kiri-kanan jurang. Nah biasanya saat kabut, Bapak selalu kasih keluar tangan, terus dia menjentikkan jari sambil bilang 'eral pate, eral pate, eral pate'."

"Eral itu dalam bahasa Amungme bisa diartikan sebagai uang atau berkat. Pate itu artinya pintu. Jadi eral pate itu 'buka pintu berkat'," kata Elfrida.

Elfrida Natkime

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Andra Anhar

Keterangan gambar, Elfrida berkisah kepada BBC, Juli lalu.

Elfrida bilang, seketika usai Silas mengucap eral pate, kabut langsung terbelah. "Kejadian itu masih ternigang-ngiang," ujarnya.

Elfrida ingat pula pada sebuah perjalanannya bersama Silas menuju pertambangan Grasberg milik Freeport. Di tengah jalan, kata Elfrida, muncul sembilan anjing dingo di sekitar mereka.

"Anjing dingo itu mengikuti kami, seolah-olah mengantar kami ke gunung," tuturnya.

"Saya terkesima, ternyata ada hubungan dekat antara bapak dan alam—alam kami sendiri," ujar Elfrida.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Marie Sabacka

Keterangan gambar, Anjing dingo dipotret tim riset yang dipimpin Marie Sabacka di Puncak Carstensz, Maret lalu. Hewan ini dikenal juga dengan sebutan New Guinea singing dog atau Canis lupus hallstromi.

Hubungan antara alam dan orang Amungme, kata Elfrida, berkaitan erat dengan eksistensi Nemangkawi. Dalam bahasa ibu mereka, Nemangkawi bermakna panah putih—yang merujuk salju atau tumpukan es pada sejumlah puncak di pegunungan ini.

Elfrida berkata, Nemangkawi merupakan batu penjuru yang menjadi patokan cara hidup orang-orang Amungme.

Silas Natkime

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Potret Silas Natkime di sekitar Nemangkawi, sekitar tahun 1980-an.

Dalam spiritualitas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, masyarakat adat Amungme percaya, hanya dengan mengikuti cara hidup itulah mereka bisa mencapai surga.

"Sebelum kekristenan masuk sekitar tahun 1950-an, kami sudah memiliki sistem yang namanya Hai," kata Elfrida.

"Dalam Hai, kami percaya bahwa kami harus menjaga relasi yang baik dengan diri kami, dengan alam, dan juga dengan manusia di sekitar kami…keharmonisan itu yang saya lihat seperti anak panah.

"Kami percaya Nemangkawi bukan hanya gunung, tapi tempat peristirahatan leluhur. Makanya nenek dan bapak selalu berdoa supaya anak dan cucu mereka punya hati seperti Nemangkawi," ujar Elfrida.

"Orang tua selalu bilang, 'hiduplah lurus seperti Nemangkawi, seperti anak panah.' Artinya, jangan melenceng ke kanan atau ke kiri, supaya kami bisa ada di Hai Jogon," kata Elfrida.

Salju papua

Sumber gambar, Leiden University Libraries

Keterangan gambar, Puncak Carstensz tampak di bagian belakang dan ujung Gletser Meren terlihat di sisi paling kiri foto. Potret ini diabadikan pada 1936, dari pesawat amfibi Sikorsky 38.

Spiritualitas yang menuntut keharmonisan itulah, menurut Elfrida, yang membuat kakeknya, Tuarek Natkime, menerima kedatangan Freeport. Dia berkata, prinsip itu diturunkan Tuarek kepada ayahnya dan juga seluruh anggota keluarga besar Natkime.

"Perusahaan ini bisa ada karena kami menerima dengan baik. Saya pelajari dari orang tua saya, cara mereka berdiskusi, cara mereka memperjuangkan hak-hak dengan yang damai," kata Elfrida.

"Bapak selalu bilang, 'kita tidak bisa demo-demo', harus di meja, harus kita rundingkan, diskusi lagi…karena itu kembali lagi ke Hai, Nemangkawi, bagaimana kami harus menjaga kedamaian antarsesama dan juga dengan alam," ujarnya.

Sejak Freeport datang pertama kali ke Nemangkawi, lalu menambang Ertsberg, Tuarek menyatakan satu prinsip yang harus dihormati oleh perusahaan itu dan juga keluarga Natkime.

"Buknegelme atau pemilik gunung dan eralnegelme atau pemilik uang harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi," kata Elfrida. "Kesetaraan itulah yang kami selalu perjuangkan di atas tanah kami," tuturnya.

Tuarek Natkime

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Potret Tuarek dan Silas Natkime.

Arnold Mampioer, pegawai negeri Provinsi Irian Jaya keturunan Biak, pernah menulis bagaimana relasi antara orang Amungme dengan hutan, gunung, lembah, dan sungai—lingkungan di sekitar ruang kehidupan mereka.

Data Arnold itu menjadi bagian dalam upayanya menjadi perantara dalam sengketa berujung kesepakatan antara Freeport, pemerintah Indonesia, dan masyarakat adat Amungme pada awal 1970-an.

"Pegunungan Nemangkawi yang tinggi dan luas itu oleh penduduknya dikenal dengan baik dan dibagi hak tanah di dalamnya, menurut klan atau keret atau marga," tulis Arnold.

"Setiap klan mengetahui dengan pasti tanah dan hak wilayahnya. Karenanya, dari puncak salju sampai ke Ertsberg dan sekitarnya terdapat beberapa puncak gunung yang sangat penting dalam seluruh penghidupan dan kebudayaan Amungme."

Salju papua

Sumber gambar, Elfrida Natkime

Keterangan gambar, Potret seorang laki-laki dari komunitas adat Amungme di sebuah perkampungan di kaki Nemangkawi.

Arnold menambahkan, "Menjual tanah di Amungme tidak dikenal. Yang dikenal hanya meminjamkan, untuk dipakai dalam waktu tertentu, lalu diserahkan kembali."

Nemangkawi atau deretan pegunungan bersalju terdiri dari berbagai gunung.

Dalam dokumennya, Arnold menyebut Buknao Negelmabuk (gunung keramat yang ada penunggunya dan tempat pemujaan salah satu marga), Mapalmabuk (gunung sakti yang dilarang untuk didatangi), dan Naselmabuk (gunung bersaudara).

Ada pula Yamangnaselyor (gunung tempat dewa dari marga Yamang yang berbentuk anjing), dan Kaloknamordenembuk (gunung tempat menaruh persembahan berupa babi yang disembelih untuk dewa pemberi keselamatan).

salju papua

Sumber gambar, Leiden University Libraries

Keterangan gambar, Aparatur pemerintah kolonial Belanda dan sejumlah orang asli Papua membangun jembatan untuk menunjang ekspedisi menuju Puncak Carstensz pada 1935.

Satu gunung lain yang disebut Arnold adalah Yelsegel-Ongopsegel, yang dalam bahasa Amungme berarti gunung berkilat.

"Puncak itu merupakan tempat beristirahat burung Yelki dan Ongopki, sehingga berkilat-kilat," tulis Arnold.

"Puncak Yelsegel-Ongopsegel merupakan tempat keramat atau suci bagi marga Natkime serta keret-keretnya yang tergabung dalam suku besar Amungme," tutur Arnold.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Spaarnestad Photo

Keterangan gambar, Anton Colijn, Frits Wissel, dan Jean Jacques Dozy berpose di sekitar Puncak Carstensz, tahun 1936.

Cerita soal burung di puncak Nemangkawi dituliskan oleh Anton Colijn, yang bersama Jean Jacques Dozy dan Frits Wissel, menginjakkan kaki di Puncak Ngga Pulu pada 5 Desember 1936.

Pagi hari, sekitar jam 6 pagi, saat mereka hendak melakukan pendakian tahap terakhir menuju puncak tertinggi Ngga Pulu, Anton bilang dia mendengar kicauan burung.

"Di sana, anehnya, kami mendengar kicauan yang sangat mengingatkan kami pada spesies burung lark asli," tulis Colijn.

"Makhluk kecil itu mencapai tempat yang sangat tinggi. Nyanyiannya tidak hanya terasa aneh, tapi juga memberi ketenangan. Jelas, kami bukan satu-satunya makhluk hidup yang menemukan kebahagiaan di ketinggian ini," tuturnya.

Salju papua

Sumber gambar, Leiden University Libraries

Keterangan gambar, Frits Wissel berpose di puncak sebuah bukit dengan lanskap padang rumput di kaki Nemangkawi, saat ekspedisi ke Puncak Carstensz pada 1936.

Tidak pernah terkonfirmasi burung apa yang berkicau saat Colijn, Wissel, dan Dozy hendak beranjak ke puncak Ngga Pulu itu. Namun yang jelas, 12 hari sebelum kejadian itu, ketiganya untuk pertama kalinya melihat Yelsegel-Ongopsegel—gunung yang mereka sebut Ertsberg—yang akhirnya ditambang oleh Freeport pada 1970.

"Gunung ini adalah milik saya," kata Tuarek Natkime, dalam pertemuan yang dimulai pukul 9.50 pagi di Tembagapura, 7 Desember 1974. Saat mengutarakan kalimat itu, Tuarek mengarahkan telunjuknya ke Ertsberg.

Pertemuan antara Tuarek, pemerintah Indonesia, Freeport, dan perwakilan sejumlah marga lainnya dari kaki Nemangkawi itu adalah bagian dari rentetan peristiwa yang bereskalasi sejak 5 Desember 1973.

Merujuk salinan surat Freeport kepada Gubernur Irian Jaya saat itu, Acub Zainal, pada 19 Desember 1973, sejumlah warga dari Kampung Waa dan Kampung Tsinga merobohkan tenda milik pegawai Freeport di dekat Gunung Tengogoma.

"Barang-barang di dalam tenda dipindahkan, tanpa mereka merusakkan sesuatu. Mereka memancangkan patok-patok sebagai tanda larangan memasuki daerah itu," demikian tertulis dalam surat itu.

Puncak Salju

Sumber gambar, PT Freeport Indonesia

Keterangan gambar, Wujud Yelsegel-Ongopsegel alias Ertsberg sebelum ditambang oleh PT Freeport Indonesia.

Ketika itu, para pegawai Freeport berada di sekitar Tengogoma untuk mengeksplorasi potensi tembaga dan emas gunung tersebut—walau tiga tahun sebelumyna mereka baru saja mulai menambang Ertsberg.

Freeport lantas menggelar tiga perundingan dengan perwakilan sejumlah marga di sekitar Nemangkawi. Dalam negosiasi dua pihak, komunitas adat Amungme menyatakan tiga hal.

Pertama, mereka melarang upaya Freeport menambang Tengogoma sebelum perusahaan itu "membayar untuk yang lama". Kalimat ini merujuk eksploitasi yang telah Freeport lakukan terhadap Ertsberg.

"Ini seperti mau mengambil anak yang kedua dari dua putri milik seorang ayah, tanpa membayar mas kawin apa-apa untuk salah seorangpun dari mereka," begitu tuntutan representasi warga Amungme itu.

Sikap kedua dan ketiga memiliki satu benang merah, bahwa "pembayaran untuk Ertsberg adalah perbedaan antara hidup dan mati". Artinya, mereka menyebut pemberian ganti rugi merupakan hal yang wajib dipenuhi Freeport.

Tuntutan itulah yang kemudian mendasari sejumlah kesepakatan pada awal 1974, antara para pemilik ulayat di Nemangkawi dengan Freeport—yang dikenal sebagai January Agreement.

Freeport berjanji akan membangun sekolah, rumah guru, poliklinik, serta rumah model untuk permukiman warga di Waa dan Tsinga.

Sebagai imbalannya, para perwakilan marga pemilik ulayat akan mempersilakan Freeport menambang Ertsberg dan juga Tengogoma yang kemudian disebut perusahaan itu sebagai Grasberg.

papua, mimika, lembah tsinga

Sumber gambar, Jos Donkers

Keterangan gambar, Lembah Tsinga dipotret pada dekade 1950-an dalam rangka proyek misionaris Katolik. Di belakang perkampungan ini terlihat Nemangkaw Ninggok, pegunungan salju yang dianggap sebagai tempat sakral oleh orang-orang Amungme.

Namun operasional Freeport pada beberapa dekade setelahnya memicu berbagai kontroversi, dari persoalan lingkungan hingga kekerasan bersenjata. Kekecewaan juga dinyatakan Tuarek pada 1995, sekitar dua dekade setelah dia mempersilakan Freeport menggerus habis gunung milik marganya.

"Freeport menjanjikan saya rumah yang bagus. Ini bukan rumah yang bagus," kata Tuarek kepada Bloomberg, sambil menunjuk dinding rumahnya yang kotor.

"Tapi di Tembagapura, rumah-rumah bagus," ujar Tuarek.

Pada 1996, setelah rentetan huru-hara di Timika, Freeport menyatakan setiap tahun akan mengalokasikan 1% dari total penghasilan tahunan mereka "untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat" Amungme. Program itu mereka sebut Dana Kemitraan—kini dikelola Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro.

Sejak usia dewasanya, perasaan Elfrida selalu membuncah ketika dia pulang ke Waa, berkunjung ke Tembagapura, dan dari dekat melihat gunung-gunung tinggi di barisan Nemangkawi.

"Setiap kali melihat gunung itu, saya merasa takjub, tapi ada rasa emosional. Semenjak perusahaan masuk, saya melihat eksploitasi itu, saya sedih," kata Elfrida.

"Saya sedih, dengan kekayaan alam sebegitu besar, saya melihat banyak keluarga saya masih hidup susah—hidup di bawah garis kemiskinan. Tanah ini sudah memberkati banyak orang, tapi kami seolah-olah dilupakan," ujarnya.

Puncak salju

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Sebuah potret memperlihatkan Tuarek Natkime dan putranya, Silas, bersama seorang petinggi Freeport dan juga kerabat mereka di Kampung Waa. Waktu pengambilan foto tidak diketahui.

Walau begitu, Elfrida tidak mau menyingkirkan fakta bahwa Nemangkawi menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang—komunitas asli Papua non-Amungme maupun orang-orang dari luar Papua.

Elfrida mengulangi perkataan ayahnya, "kalau tidak ada perusahaan, saya mungkin masih telanjang, tidak tahu pakaian."

Elfrida bertutur tentang perubahan yang dialami ayahnya, Silas, di tengah keberadaan Freeport yang dianggap kontradiktif oleh para akademisi—menguntungkan negara dan sebagian kalangan, tapi berdampak negatif bagi lingkungan dan memicu konflik sosial.

Silas dan keluarga besar Natkime hidup di kampung bernama Tunima Ogom, sebelum Freeport datang. Elfrida berkata, nama kampung itu dalam bahasa Amungme bermakna "tempat harum tuan tanah".

Freeport

Sumber gambar, AFP via Getty Images/Olivia Rondonuwu

Keterangan gambar, Tembagapura, kota di bawah kaki Nemangkawi yang menjadi permukiman pegawai Freeport, dipotret Agustus 2013. Tembagapura dulu merupakan ruang hidup bagi masyarakat Amungme, termasuk dari marga Natkime.

Sebelum pertambangan dimulai, kata Elfrida, Freeport memindahkan keluarga besarnya dari Tunima Ogom ke wilayah baru yang letaknya lebih rendah, sekitar satu kilometer jauhnya.

Kampung baru yang ditempati keluarga Natkime itu kemudian disebut sebagai Kampung Waa. Tunima Ogom lalu diubah Freeport menjadi kota untuk para pegawai mereka—yang mereka beri nama Tembagapura.

"Ketika umur 14 tahun, karena penasaran, Bapak main dan naik ke Tembagapura. Ternyata dia dikejar penjaga dari militer," kata Elfrida. "Dulu masyarakat adat Amungme tidak boleh masuk. Ketat sekali," ujarnya.

Silas Natkime

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Silas Natkime (bawah, kedua dari kiri) bersama kerabat dan teman-temannya pada tahun 1980-an.

Lima tahun kemudian, kata Elfrida, Silas mencoba peruntungan untuk bekerja sebagai teknisi di tambang bawah tanah Freeport. Namun "karena tidak pernah sekolah", Silas gagal. Posisi yang bisa didapat Silas adalah petugas kebersihan.

"Dulu bukan karena seseorang bermarga Natkime, maka dia langsung menjadi bos," ujar Elfrida. "Saya melihat proses hidup Bapak," ucapnya.

Karier Silas di Freeport memang terus-menerus menanjak. Dia sempat menjabat sebagai manajer senior urusan masyarakat asli Papua, lalu menjadi Wakil Presiden Freeport pada 2010, dengan sokongan Majelis Rakyat Papua.

Saat berada di pucuk pimpinan Freeport, Silas beberapa kali mengungkap pandangannya soal relasi keluarga besar pemilik hak ulayat, orang Amungme, dan juga perusahaan tersebut.

"Kami hidup karena ada Freeport. Kalau mengharapkan pemerintah, kami masih telanjang, miskin dan bodoh," kata Silas pada 2017.

Enam tahun sebelumnya Silas juga pernah berkata, "Kalau perusahaan ini tutup maka kami sebagai tuan tanah akan kena dampaknya."

Puncak salju papua

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Silas Natkime berpose bersama petinggi Freeport, James Robert Moffett.

Silas bukan orang Amungme pertama yang duduk di kursi pimpinan tertinggi Freeport. Sebelum Silas, Tom Beanal, putra pemilik hak ulayat di Lembah Tsinga, diberikan jabatan komisaris oleh perusahaan itu.

Semasa kehidupannya, Tom adalah Kepala Suku Besar Amungme alias Torei Negel. Pada 1974, saat berstatus anggota DPRD Fakfak, Tom terlibat dalam membahas January Agreement.

Tak lama setelah kesepakatan itu, Tom mundur dari jabatan politik dan putar haluan menjadi rohaniawan Katolik dari kalangan awam.

Pada 1990-an, Tom ikut mendirikan dan memimpin Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme. Atas nama orang adat Amungme, dia menggugat Freeport ke Pengadilan Louisiana, Amerika Serikat, atas tuduhan perusakan lingkungan.

Dengan rekam jejak itu, keputusan Tom pada tahun 2000 untuk menerima tawaran menjadi komisaris Freeport menimbulkan pertanyaan sekaligus pro-kontra. Tom lantas memberikan penjelasan tentang langkah yang dia ambil tersebut—yang memiliki napas serupa dengan perkataan Silas.

"Dulu kami cuma bisa berteriak dari luar kawat duri. Kini tidak. Kami diajak bicara. Jadi ada penghargaan bahwa kami ini juga manusia. Itu kami sebut sebagi kemajuan," kata Silas.

'Saya tidak bisa lihat gunung, dilarang, setengah mati'

Berbeda dengan Elfrida dan keluarga besar Natkime, Adolfina tidak berasal dari keluarga pemilik ulayat, meski orang tua dan leluhurnya secara turun-temurun tinggal di Lembah Tsinga.

Adolfina berasal dari keluarga dengan marga Kum. Pada awal 1960-an, saat berumur belasan tahun, ayahnya pergi dari Tsinga, mengikuti program transmigrasi yang digagas otoritas Gereja Katolik setempat menuju Agimuga—sebuah wilayah di pesisir tenggara Mimika.

Adolfina berkata, ayahnya adalah satu-satunya orang bermarga Kum yang ikut bermigrasi dari kaki Nemangkawi menuju pinggir laut.

Keputusan ayahnya itu membuat Adolfina berjarak dengan tanah leluhurnya. Pada masa kecilnya, Adolfina tak pernah melihat gunung-gunung yang puncaknya bersalju.

Nemangkawi hanya didengar Adolfina melalui kisah-kisah yang dituturkan ayah, ibu, dan neneknya.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Ikbal Asra

Keterangan gambar, Adolfina Kum dipotret di Timika, Agustus 2026.

Pada usia dewasanya, Adolfina mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk relasi dirinya dengan Nemangkawi dan juga beragam alasan mengapa gunung yang dianggap sakral itu ditambang.

"Dulu saya punya bapak cerita, mereka pindah ke dataran rendah karena misionaris. Tapi ke sini-ke sini, setelah saya jadi aktivis, saya paham bahwa ternyata bukan karena misionaris," kata Adolfina.

"Waktu itu Freeport mau masuk dan muncul pro-kontra. Jadi orang-orang yang melawan atau dianggap memberontak, yang membuat perusahaan tidak bisa masuk, dipindahkan ke wilayah pesisir.

"Terjadi migrasi besar-besaran. Itu yang terjadi," ujarnya.

Pemindahan masyarakat Amungme secara massal dari sejumlah lembah di kaki Nemangkawi memang terjadi, setidaknya dalam empat gelombang pada 1960, 1961, dan 1962.

Walau begitu, berbagai berkas pemerintah kolonial Belanda, termasuk catatan pegawai negeri mereka dan rohaniawan Katolik—setidaknya sampai saat ini—tidak menunjukkan relasi antara penolakan terhadap Freeport dan transmigrasi besar menuju Agimuga.

Papua, amungme

Sumber gambar, Papua Heritage Foundation

Keterangan gambar, Dua misionaris Katolik asal Belanda, Herman Peters dan Radboud Journa, dipotret bersama laki-laki Amungme bernama Paulus pada akhir dekade 1950-an.

Arnold Mampioper, dalam dokumen tertanggal 12 Januari 1974, menyebut dirinya telah mempersiapkan pemindahan warga adat Amungme dari Lembah Tsinga dan Noemba sejak 1958 dan 1959. Dia mempersiapkan transmigrasi itu bersama dokter pemerintah kolonial bernama Theodorus Hanegraaf.

Persiapan transmigrasi itu memang beririsan waktu dengan pengajuan izin pertambangan yang diajukan perusahaan Belanda, Oost Borneo Maatschappij (OBM).

Pada 1959, perusahaan itu mendapat izin dari otoritas kolonial Belanda untuk mengeksplorasi kawasan sekitar Nemangkawi—termasuk Yelsegel-Ongopsegel alias Ertsberg.

Pegunungan papua

Sumber gambar, Kantoor voor Voorlichting en Radio Omroep Nieuw-Guinea

Keterangan gambar, Bukan hanya pegunungan di wilayah tengah Papua, Pegunungan Cycloop di sisi utara Danau Sentani juga telah diincar investor karena diyakini mengandung kekayaan mineral. Foto ini diabadikan tahun 1958 dari Kampung Ayapo.

Direktur Pelaksana OBM, Jo van Gruisen, pada tahun yang sama, telah berada di Papua karena mengerjakan proyek pertambangan nikel dan kobalt di Pegunungan Cycloop dan Raja Ampat. Saat itu dia mengajak pimpinan Freeport Sulphur, Forbes Wilson, untuk berkongsi menjajaki pertambangan di Nemangkawi.

Wilson setuju. Pada 1960 dia melakukan napak tilas pendakian Dozy, Colijn, dan Wissel ke pegunungan salju itu. Pada saat yang sama, menurut catatan Arnold Mampioper, gelombang pertama dan kedua transmigrasi dari Lembah Tsinga dan Noemba berangkat menuju Agimuga.

Pada 1961, tulis Arnold, gelombang ketiga pemindahan warga adat Amungme itu berlangsung.

Pada Februari dan Maret tahun 1961, tulis Arnold, dia berunding dengan Tuarek Natkime. Mereka membahas "persiapan pembukaan jalan dari Waa ke dataran rendah untuk ekspedisi kedua Oost Borneo Maatschappij dan Freeport yang akan masuk tahun itu."

papua, agimuga

Sumber gambar, Jos Donkers

Keterangan gambar, Penduduk Agimuga dipotret tahun 1977.

Gelombang transmigrasi terakhir dari Tsinga dan Noemba menuju Agimuga terjadi pada 1962—tahun ketika Indonesia dan Belanda meneken Perjanjian New York yang kontroversial, untuk mengakhiri sengketa mereka merebutkan Tanah Papua.

Menurut laporan resmi pada 1962 yang dibuat pejabat kolonial Belanda, Raphael den Haan, transmigrasi ke Agimuga bertujuan untuk "memindahkan masyarakat dari wilayah terisolasi dan padat penduduk di kaki gunung".

Di Agimuga, menurut den Haan, orang-orang Amungme bisa lebih mudah mengakses layanan kesehatan dan aktivitas ekonomi. Namun proyek transmigrasi itu akhirnya gagal. Perkebunan karet untuk orang Amungme yang diwacanakan pemerintah kolonial Belanda tak terwujud sampai mereka pergi dari Papua dan digantikan Indonesia.

Agimuga luluh lantak digempur militer Indonesia dalam peristiwa yang disebut Komisi Hak Asasi Manusia Asia sebagai genosida terlupakan pada 1977 hingga 1978.

Operasi militer dengan klaim menumpas milisi pro-kemerdekaan pimpinan Kelly Kwalik itu mendorong orang-orang Amungme kabur mencari ruang hidup baru, meski mereka baru datang dan menetap dua dekade sebelumnya.

"Keluarga saya ini marga Kum yang dari bawah, dari Agimuga," kata Adolfina. "Hanya satu itu, saya punya bapak sendiri. Marga Kum semua ada di Tsinga, di gunung," ujarnya.

papua, agimuga

Sumber gambar, Jos Donkers

Keterangan gambar, Potret warga Agimuga di landasan udara yang berada di Kampung Aramsolki, pada 1980.

Keputusan ayahnya untuk bermigrasi ke Agimuga membuat Adolfina tak punya kenangan apapun tentang lembah-lembah di kaki Nemangkawi ataupun lanskap pegunungan salju itu.

"Saya dengar cerita dari saya punya mama, waktu saya kecil. Mereka dulu ada musim buah yang mereka bilang kacang gunung," kata Adolfina.

"Terus masyarakat di sana dulu ramai-ramai pergi panen, bikin kebun. Itu kehidupan di gunung dulu.

"Saya hanya dapat cerita-cerita sepenggal karena saya hidup dan besar di Agimuga," tuturnya.

Kepindahan ke Agimuga, kata Adolfina, juga mengubah spiritualitas keluarganya—selain juga karena kekristenan yang akhirnya mereka percayai.

"Saya ada cerita dari saya punya nenek. Dia dulu kupas nanas dan tebu, lalu isi ke dalam daun pisang yang bagus-bagus," ucap Adolfina.

"Saya pikir makanan itu untuk saya. Ternyata tidak. Dia pergi ke beringin besar dan taruh di situ. Dia bilang 'di sini ada Tuhan'.

"Tapi semakin ke sini, mama saya tidak begitu. Dia pegang rosario ke kebun. Jadi banyak hal berubah setelah misionaris datang," ujarnya.

Salju papua

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Sebuah gunung di sekitar Nemangkawi.

Pada 2013 atau lima tahun setelah lulus kuliah di Yogyakarta, Adolfina memulai perjalanannya untuk membicarakan hak orang Amungme di tengah hiruk pikuk pertambangan Freeport di Nemangkawi. Dia membentuk Lembaga Peduli Masyarakat Mimika Timur Jauh (Lepemawi).

Melalui aktivisme itulah Adolfina mulai menggali relasi yang lebih dalam dengan orang-orang Amungme yang terdampak pertambangan, termasuk juga dengan Nemangkawi.

"Saya ke sana [melihat Nemangkawi] hanya tiga kali. Saya bisa ke sana saat saya sudah menjadi aktivis. Memang agak susah setengah mati untuk masuk [ke wilayah pertambangan Freeport]," ujarnya.

"Gunung di atas itu kan sebenarnya tempat suci. Ibaratnya, bagaimana kalau ada orang membom Roma atau Mekkah? Orang Islam dan Katolik akan marah tidak? Tapi itulah yang terjadi terhadap orang Amungme," kata Adolfina.

Salju papua

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Puncak Carstensz dipotret akhir 2025.

Wilayah operasi Freeport di bekas ruang hidup orang-orang Amungme di kaki Nemangkawi sejak awal telah dijaga ketat oleh aparat, baik militer maupun kepolisian.

Seperti pengalaman Silas Natkime yang dituturkan Elfrida, tidak semua orang bisa berjalan dan masuk ke Tembagapura maupun lokasi pertambangan yang berada di sekitar gunung-gunung Nemangkawi.

Surat yang diterbitkan Komando Daerah Kepolisian XXI Irian Jaya pada 1 April 1973 memperlihatkan bagaimana pemerintah membangun "sistem keamanan" untuk Freeport.

Surat itu berisi petunjuk pelaksanaan bagi personel kepolisian yang bekerja di wilayah Freeport. Surat tersebut berbasis Keputusan Kepala Daerah Kepolisian XXI Irian Jaya tanggal 1 Agustus 1972—yang membentuk pos khusus kepolisian di daerah proyek Freeport.

"Tugas kepolisian dalam juklak ini adalah segala tindakan penanggulangan gangguan keamanan di dalam lingkungan proyek dan sekitarnya, baik yang bersifat preventif maupun represif, untuk menjamin keamanan manusia dan instalasi/sarana lainnya, maupun kelancaran segala aktivitas proyek," begitu tertera dalam surat 1 April 1973 itu.

Freeport

Sumber gambar, Antara Foto/Rizal Hanafi

Keterangan gambar, Wilayah kerja Freeport di Mimika dijaga oleh aparat bersenjata lengkap, dari kepolisian dan militer, seperti pada 17 Agustus lalu.

Belakangan, bukan cuma kepolisian yang menjaga wilayah Freeport di kaki Nemangkawi, tapi juga institusi militer.

Periset ilmu politik Denise Leith, dalam studi doktoralnya pada akhir dekade 1990-an, juga menyebut bagaimana "jalur masuk menuju Tembagapura dikontrol oleh pos keamanan Freeport dan militer."

Kepolisian dan militer dalam beberapa tahun terakhir membentuk dan menempatkan satuan khusus mereka di Timika. Keduanya adalah Satgas Cartenz dan Satgas Habema.

Pertambangan Freeport bukan cuma mengubah bagaimana orang-orang Amungme mengakses Nemangkawi yang krusial dalam spiritualitas dan kehidupan keseharian mereka. Setiap pendaki yang hendak naik ke puncak salju di pegunungan ini juga harus melalui proses perizinan yang dianggap berlapis-lapis.

Oswald Oelz, pendaki populer sekaligus pakar penyakit ketinggian asal Swiss, pernah menulis bagaimana hanya segelintir orang dari komunitas pendaki internasional yang berminat naik ke puncak-puncak salju di Nemangkawi. Alasannya, kata dia, adalah persoalan politik dan keamanan.

"Pada 1987, dua warga Swiss pertama yang berusaha mendaki gunung itu, Markus Itten dan Diego Wellig, nyaris ditembak patroli militer," tulis Oelz di publikasi komunitas pendaki yang dihormati di Amerika Serikat, American Alpine Club, pada 1991. Tidak ada arsip pembanding yang dari sisi militer terkait insiden ini.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Marie Sabacka

Keterangan gambar, Anggota tim riset yang dipimpin Marie Sabacke, pakar gletser asal Ceko, yang naik ke Puncak Carstensz, Maret lalu.

Di jurnal American Alpine Club itu pula, Oelz mengisahkan proses yang harus dia tempuh sebelum akhirnya menjadi orang ketiga di dunia yang berhasil menuntaskan pendakian ke tujuh puncak tertinggi di dunia, termasuk Puncak Carstensz, setelah Reinhold Messner dan Pat Morrow.

Oelz menulis, setelah berbagai usahanya mendapatkan izin pendakian gagal, pada 1990 dia mendapat info bahwa izin itu hanya bisa dia dapat jika dia memulai perjalanan menuju Carstensz melalui Tembagapura yang dioperasikan Freeport.

"Pendakian kami dimulai setelah kendaraan perusahaan pertambangan itu membawa kami ke daerah rawa-rawa," kata Oelz.

Agen pendakian asal Ceko milik operator ekspedisi partikelir Petr Jahoda juga menulis bagaimana perizinan untuk mendaki puncak salju di Nemangkawi begitu rumit.

"Mendapatkan izin apapun sangat sulit," tulis agen bernama Carstensz Papua—yang kini sudah tak aktif lagi.

"Penting sekali untuk mendapat izin dari BAIS (Badan Intelijen Strategis TNI), militer, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata, kepolisian, dan banyak lembaga lainnya," tulis agen pendakian tersebut.

"Penting juga untuk mendapat izin dari pemerintahan di Jayapura. Semua izin tadi bergantung pada izin dari Jakarta. Tanpa izin dari Jakarta, Anda tidak akan mendapat izin dari Jayapura.

"Mengurus semua izin itu membutuhkan waktu lama. Anda membutuhkan setumpuk foto dan satu koper berisi uang," tulis mereka.

Puncak carstensz

Sumber gambar, Marie Sabacka

Keterangan gambar, Helikopter membawa peneliti Marie Sabacka ke Lembah Kuning. Perjalanan risetnya ke Puncak Carstensz dikawal sejumlah polisi "demi alasan keamanan".

Marie Sabacka adalah salah satu orang yang baru-baru ini naik ke Nemangkawi, bukan demi mencapai Puncak Carstensz atau Ngga Pulu, tapi untuk meneliti dampak mencairnya lapisan es terhadap ekosistem flora dan fauna di sekitarnya.

Maret lalu, pakar ekologi gletser itu datang ke Nemangkawi bersama rekan penelitinya, Roberto Ambrosini, dari University of Milan. Marie menceritakan bagaimana proses perizinan sempat membuatnya berniat membatalkan riset ke lapisan es di sisi timur Puncak Carstensz.

"Ini adalah salah satu ekspedisi tersulit yang pernah saya lakukan, meskipun terutama karena alasan administratif dan logistik, bukan karena pendakian gunungnya," kata Marie.

"Sejujurnya, kami mungkin memulai proyek ini dengan agak naif. Kami tahu bahwa Papua akan rumit, tapi kami tidak mengantisipasi betapa banyaknya izin, lembaga, dan persyaratan hukum yang terpisah yang harus kami lalui.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Marie Sabacka

Keterangan gambar, Dua periset, Marie Sabacka dan Roberto Ambrosini, mengambil sampel di Puncak Carstensz, Maret 2026.

"Jika saya memahami sejak awal berapa banyak waktu, uang, dan ketidakpastian yang dibutuhkan, saya tidak yakin kami akan mencobanya.

"Persiapan ekspedisi membutuhkan lebih dari seribu jam, tapi bagian tersulit adalah ketidakpastian. Proses perizinan begitu berbelit-belit sehingga, meskipun terus mengerjakannya selama berbulan-bulan, saya tidak dapat memastikan apakah kami hampir selesai atau masih harus menunggu setengah tahun lagi," ujar Marie.

Kisah perempuan terkuat dan jalur menuju puncak salju yang ditutup karena konflik

Puncak salju di Nemangkawi telah menarik banyak perhatian orang-orang non-Papua sejak awal abad ke-20, baik untuk menambang kekayaan mineral maupun demi mengejar mimpi menginjakkan kaki di salah satu gunung tertinggi di Bumi.

Konsekuensinya, komunitas adat di sekitar Nemangkawi lantas harus menghadapi kontradiksi.

Justinus Sondegau, laki-laki berdarah Moni di Intan Jaya, merasakan bagaimana puncak salju memungkinkannya mendapat nafkah, walau leluhurnya menyebut Nemangkawi sebagai gunung keramat.

Setelah lulus sekolah menengah atas pada 2008, Justinus baru saja kembali dari Timika ke kampungnya di Distrik Sugapa. Tiba-tiba, kata dia, ada seseorang yang menghubunginya lewat ponsel.

Orang di ujung telepon itu bertanya kepada Justinus tentang Nemangkawi.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Justinus Sondegau di Lembah Kuning, jelang pendakian ke Puncak Carstensz.

"Bapak tahu gunung ini kah?" ujar Justinus, mengulangi pertanyaan orang yang baru dia kenal itu.

"Saya bilang dalam bahasa Moni, 'ini Mbainggela'. Dari nenek moyang, nama itu ada. Saya tahu nama, tapi jalan menuju tempat itu saya tidak tahu," kata Justinus.

Tahun 2008 adalah masa ketika kampung halaman Justinus, Sugapa, berubah menjadi ibu kota Intan Jaya. Kabupaten ini dimekarkan dari Kabupaten Paniai.

Justinus berkata, orang yang menghubunginya saat itu ternyata bekerja di sebuah agen yang biasa membawa pendaki naik ke puncak salju di Nemangkawi. Mereka sedang mencari jalur alternatif menuju Puncak Carstensz, selain dari Tembagapura.

"Oke nanti kita coba tanya masyarakat yang ada di Sugapa supaya kita bisa tahu jalan ke Mbainggela," kata Justinus kepada agen pendakian itu.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Justinus Sondegau berada di Puncak Carstensz bersama dua pendaki dari luar negeri yang diantarnya.

Maka terbanglah mereka menuju Sugapa dan berkeliling selama dua pekan di permukiman warga. Tujuannya, mencari jalan setapak ke arah Nemangkawi.

Sampai akhirnya, kata Justinus, mereka berjumpa laki-laki paruh baya yang berkata, "saya pernah berburu landak ke sana, selama empat hari empat malam."

Bersama tim dari agen pendakian itu, mereka lalu menelusuri jalan setapak itu dan benar-benar tiba di sisi utara kaki Nemangkawi. Jalur ini kemudian mereka beri nama Rute Soanggama—merujuk kampung terakhir yang mereka lalui sebelum masuk ke hutan untuk tiba di Nemangkawi.

Namun perjalanan itu bukan hanya mengungkap jalur setapak dari Intan Jaya ke Nemangkawi. Para agen pendakian itu, kata Justinus, diberitahu bagaimana komunitas adat Moni menempatkan gunung berpuncak salju tersebut.

"Orang tua bilang Mbainggela itu tempat sejarah, tempat asal usul, bukan untuk orang Moni saja, tapi masyarakat di Paniai, orang-orang Dani, dan Nduga juga," ujarnya.

"Orang Moni biasa bilang gunung itu tempat keramat," kata Justinus.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Justinus berjalan di atas kawat tali yang menghubungkan dua tebing, tak jauh dari titik tertinggi Puncak Carstensz. Lokasi ini dikenal sebagai Kandang Babi atau Tyrolean Traverse.

Orang-orang tua di Sugapa biasanya bercerita tentang perjalanan mereka ke kaki pegunungan itu. Bukan untuk mendaki dan melihat puncak salju, melainkan untuk berburu landak.

Setelah penelusuran Rute Soanggama itu, maka dimulailah karier Justinus sebagai koordinator pendakian yang mengurus segala persiapan di Intan Jaya.

Justinus berkoordinasi dengan warga kampung sepanjang rute itu. Dia mengurus siapa saja warga yang akan bekerja menjadi pengangkut barang para pendaki.

"Biasanya tamu kami sekitar 7-8 orang, porter-nya 35 sampai 45 orang. Jadi masyarakat yang pikul barang, bahan makanan, semuanya itu dari kampung sini," kata Justinus.

"Kami melewati tiga suku besar…dan beberapa kampung. Suku Moni punya kampung batasnya Titigi, kampung Suku Nduga dari batas Sugapa lama, terus Dani punya kampung dari Soanggama," ujarnya.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Justinus memegang surat izin terkait rencana pendakian ke Puncak Carstensz.

Justinus bilang, di setiap kampung, warga dari masing-masing suku itu akan menentukan siapa yang akan bekerja menjadi pengangkut barang. Orang yang mengatur di setiap kampung itu, kata dia, menjabat sebagai kepala porter.

Mayoritas pengangkut barang adalah perempuan, kata Justinus.

"Di sini yang paling kuat itu ibu-ibu. Laki-laki baru pikul sedikit, mereka akan bilang capai," ujarnya. "Para perempuan kuat pikul dan tidak mengeluh," tuturnya.

Salah satu perempuan yang mengangkut barang-barang para pendaki itu adalah Magdalena Sondegau, warga Sugapa.

"Waktu muda saya biasa pikul bahan makanan, lalu ikut orang tua ke hutan, cari buah pandan dan kuskus hutan. Jadi saya biasa naik-turun gunung," ujar Magdalena.

Namun Magdalena dan orang tuanya tak pernah mencari sumber pangan hingga ke kaki Mbainggela alias Nemangkawi. Pada masa kecilnya, pegunungan berpuncak salju itu hanya dia dengar dari orang tuanya.

"Pandangan orang Moni secara turun-temurun, Carstensz itu tempat suci. Dalam budaya, gunung itu dan wilayah sekitarnya selalu disebut dalam nyanyian," kata Magdalena yang berbicara dalam bahasa ibunya.

Intan Jaya

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Magdalena di kediamannya, Sugapa, Intan Jaya.

Magdalena mulai bekerja menjadi pembawa barang pendaki usai Justinus mengajaknya. Perempuan paruh baya ini bergabung dengan bermodalkan noken.

Noken itulah yang dia gunakan untuk membawa barang-barang pendaki. "Biasanya bawa sampai 25 kilogram. Supaya ringan, biasanya kami isi barang ke noken, lalu pikul," tuturnya.

Richard Pattison, seorang pendaki yang berbasis di Australia, pernah mendokumentasikan perjalanannya menuju Puncak Carstensz melalui Intan Jaya.

Dalam perjalanan nyaris seminggu ke puncak itu, dia memperlihatkan warga yang menjadi pemikul barang tim pendakiannya.

"Warga yang membantu kami sangat tangguh dan menginspirasi. Banyak dari mereka berjalan tanpa alas kaki walau mereka melintasi medan yang berbatu sambil memanggul beban yang berat," kata Pattison. "Ekspedisi kami mustahil berhasil tanpa bantuan mereka," ujarnya.

Intan Jaya

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Lanskap pegunungan di Sugapa, Intan Jaya.

Sudah sembilan kali Magdalena mengantar pendaki ke Mbainggela, tapi dia tak pernah menginjakkan kakinya di atas lapisan es. "Hanya pendaki yang main di atas salju itu, tapi saya bisa lihat dari jarak dekat," ujarnya.

Dalam satu perjalanan, Magdalena mendapat bayaran sekitar Rp7 juta. Namun penghasilan itu sudah tak bisa lagi dia dapatkan. Pemerintah, kepolisian, dan militer menutup Rute Soanggama dengan alasan keamanan.

Magdalena sekarang tak punya lagi penghasilan tetap. Dia kecewa dan terpukul.

"Kenapa jalan menuju ke Mbainggela sudah tidak lagi. Jika masih aman, sampai sekarang mungkin saya masih pulang-pergi ke gunung itu antar barang," ujarnya.

"Dulu saya bisa lihat uang setelah antar pendaki ke gunung. Saya bisa bayar anak sekolah, bisa bayar mas kawin. Sekarang saya kerja apa untuk dapat penghasilan?" kata Magdalena.

Intan Jaya

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Masyarakat Intan Jaya, termasuk yang tergabung dalam Forum Rakyat Bergerak dan Bersuara, turun ke jalan menuntut penghentian konflik bersenjata yang menyasar warga sipil usai Peristiwa Soanggama, Oktober 2025.

Menurut Justinus, Rute Soanggama dinyatakan terlarang usai konflik antarwarga pecah saat Pilkada 2017. Pendukung calon bupati bupati yang kalah kala itu disebut tak terima dengan hasil pilkada yang berujung di Mahkamah Konstitusi. Bentrok muncul, korban tewas berjatuhan, dan sejumlah kantor pemda di Sugapa dibakar massa.

Setelah sengketa pilkada reda, Justinus bilang tak ada pendaki yang datang ke Sugapa karena pandemi Covid-19.

Dan ternyata memang tak pernah ada lagi pendaki yang menyusuri Rute Soanggama. Konflik bersenjata yang telah berlangsung selama enam dekade antara TNI/Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat meluas hingga Intan Jaya—dan belum ada tanda-tanda dua pihak itu akan menghentikannya.

Oktober 2025, 15 orang di Soanggama tewas usai operasi militer. Satgas Habema yang bermarkas di Timika turut menyerang kampung itu. Menurut Tim Mediasi Konflik Intan Jaya, sebagian besar korban merupakan warga sipil, termasuk seorang ibu rumah tangga dan seorang bisu-tuli.

Komnas HAM mengecam apa yang mereka sebut sebagai kekerasan oleh prajurit TNI di Soanggama. Namun TNI membantah dengan klaim seluruh orang yang tewas dalam serangan mereka adalah milisi pro-kemerdekaan.

Keluarga menangis di depan jenazah korban penembakan, Okto Tigau, Intan Jaya, Papua.

Sumber gambar, Dokumentasi warga

Keterangan gambar, Konflik bersenjata terus memakan korban tewas di Intan Jaya. Keluarga menangis di depan jenazah korban penembakan, Okto Tigau, Intan Jaya, Papua, 1 Juli lalu. Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, yang menyaksikan penemuan jenazah Okto, terlihat emosional dan membuka baju dinasnya.

Situasi Intan Jaya, menurut Justinus, sudah sangat berbanding terbalik dengan keadaan satu dekade lalu.

"Biasanya dulu wisatawan jalan di sini lalu-lalang. Dalam satu tahun Rp2 miliar lebih berputar di Intan Jaya ini karena satu porter biasanya dapat Rp7-8 juta juta," kata Justinus.

"Tapi setelah jalur pendakian ditutup, saya merasakan kondisi tidak bagus. Masyarakat sering banyak yang mengeluh 'Bapak bisa datangkan tamu kah supaya kami bisa lihat uang?'.

"Sekarang ini warga cuma berharap pemerintah, ada proyek apa. Kami susah," kata Justinus.

Cerita dari salah satu pendakian terakhir, 'Kita bukan manusia super'

Penjelajah asal Denmark, Klaus Thymann, datang ke Nemangkawi akhir 2025 melalui Timika—satu-satunya jalur yang tersedia karena Intan Jaya masih terus dirundung konflik bersenjata.

Seperti para penjelajah yang telah menginjakkan kaki di Nemangkawi, Klaus sebelumnya telah mendaki puncak salju di belahan Bumi lain, seperti Gunung Ruwenzori di Republik Demokratik Kongo dan Pegunungan Andes di Bolivia.

Namun Thymann bilang bahwa penjelajahan yang dia jalan tidak didasarkan pada misi penaklukan.

"Saya orang berkulit putih dari Eropa. Ada banyak jejak kolonialisme dalam sejarah, tak ada yang bisa memungkiri itu," kata Thymann.

"Laki-laki kulit putih dari Eropa biasanya muncul di pegunungan ini, lalu berkata, 'Saya telah menemukan tempat ini.'

"Tapi gunung itu sudah ada di sana sebelum mereka datang dan semua orang yang tinggal di sana punya pengetahuan tentang gunung itu," ujarnya.

Salju papua

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Seperti para penumpang helikopter yang hendak menuju Lembah Kuning di Puncak Carstensz, Klaus Thymann wajib menimbang bobot tubuhnya.

Selama lebih dari satu dekade Thymann berkeliling ke berbagai gunung berpuncak salju dengan satu tujuan: memperlihatkan gletser yang mencair untuk menyadarkan publik bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi di Bumi.

Sayangnya, kata Thymann, tujuan yang ingin dia capai dalam kariernya itu selama bertahun-tahun menemui jalan buntu.

"Jadi saya mengubah strategi. Kita, manusia, tak butuh kesadaran. Siasat itu usang dan tidak lagi cukup," ujarnya.

Maka dalam berbagai penjelajahan terakhirnya, Thymann mengumpulkan data—"dari tempat yang hampir mustahil dikunjungi".

"Dengan membuat data itu tersedia untuk masyarakat dan pemerintah lokal, saya berharap bisa membantu orang-orang yang paling terdampak perubahan iklim," ujarnya.

"Selain itu saya juga bisa berkisah tentang cerita yang barangkali akan menggugah orang-orang sedunia bahwa perubahan iklim terjadi di berbagai tempat.

"Ketika mendengar bahwa salju abadi akan hilang, orang-orang mungkin akan terdorong untuk beraksi dan mengambil sikap," kata Thymann.

Salju papua

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Lembah Kuning, titik kumpul dan peristirahatan para pendaki yang hendak memanjat Puncak Carstensz.

Setelah menunggu lebih dari satu pekan di Timika, lalu terbanglah Thymann dengan helikopter menuju Lembah Kuning di ketinggian 4.200 meter. Ini adalah titik kumpul terakhir para pendaki sebelum mereka berjalan menuju puncak salju tertinggi di kawasan Oseania—setinggi 4.884 meter.

Target utama Thymann adalah titik East Northwall Firn, satu dari setidaknya tujuh lapisan es yang pernah tercatat berada di Puncak Carstensz. Titik gletser lainnya adalah Ngga Pulu, Meren, West Northwall Firn, Southwall Hanging, dan Carstensz Glacier.

Di Lembah Kuning, Thymann dikawal sejumlah polisi bersenjata lengkap. Selama berhari-hari, dia menantikan langit menjadi cerah dan bebas dari kumpulan awan.

Bukan hanya itu, Thymann bilang langkahnya ke lapisan es Puncak Carstensz juga harus menunggu izin aparat keamanan. Mereka beralasan, terdapat rute milisi bersenjata di jalan setapak dari Lembah Kuning menuju puncak salju itu.

Setelah dua hari di Lembah Kuning, Thymann memulai pemanjatan punggung batu kapur Puncak Carstensz. Hanya dengan cara itulah dia bisa mencapai lapisan es Nemangkawi.

salju papua

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Klaus Thymann saat berada di danau yang tak jauh dari Puncak Carstensz.

Begitu menginjakkan kaki di "salju abadi" Papua, Thymann menerbangkan pesawat nirawak berkamera. Menggunakan teknik photogrammetry, dia mengambil foto sebanyak mungkin sebagai bahan menyusun peta berskala akurat tiga dimensi.

Selain itu, Thymann juga mencatat data koordinat lapisan salju dengan alat ukur geospasial.

salju papua

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Klaus Thymann mengaplikasikan sejumlah teknologi, termasuk photogrammetry.

Seluruh proses pengambilan data itu berlangsung selama delapan hari. Selama beberapa hari Thymann harus menunggu hujan reda dan langit—dua syarat penerapan photogrammetry.

"Tidak ada hal apapun yang bisa Anda lakukan selama menunggu, tapi Anda harus menerima kenyataan itu," kata Thymann.

"Proses itu mengingatkan saya bahwa saya bukan makhluk paling super, membuat saya mengerti bahwa alam memiliki kehendak.

"Tapi secara kolektif, umat manusia telah mengubah alam. Realitas itu sangat kontras," kata Thymann.

Jejak punahnya 'salju abadi'

Lebih dari satu abad setelah "perlombaan menuju puncak bersalju" di Tanah Papua, gletser yang tersisa hanyalah yang berada di sekitar Puncak Carstensz—luasnya kurang dari 17 hektare, menurut riset tahun 2025 oleh David Ibel, Thomas Molg, and Christian Sommer dari Institut of Geography di Friedrich-Alexander University, Jerman.

Di Puncak Carstensz, menurut riset itu, luasan gletser menyusut dari sekitar 1.900 hektare pada tahun 1850 menjadi 640 hektare pada 1974.

Luas lapisan es itu terus berkurang menjadi 210 hektare pada 2002 dan tersisa 16,5 hektare pada 2024.

Gletser itu berada di titik yang disebut para saintis sebagai East Northwall Firn dan Carstensz Glacier.

Puncak Carstensz

Sumber gambar, Leiden University Libraries

Keterangan gambar, Gletser atau lapisan es di Puncak Carstensz pada 1936.

Merujuk berbagai penelitian sebelumnya, tiga periset itu menyebut berbagai penyebab yang memicu mencairnya lapisan es di Puncak Carstensz.

"Antara tahun 1997 dan 2016, suhu udara di bawah titik beku kemungkinan besar hanya terjadi di puncak gletser tertinggi, itu cuma selama beberapa jam pada malam dan pagi hari," tulis mereka.

Selain itu mereka menyebut pula faktor seperti perubahan suhu permukaan laut, perubahan fase presipitasi akibat kenaikan suhu udara, perubahan penyerapan radiasi, serta perubahan arah dan kecepatan angin.

Mereka juga menyebut faktor El Nino Osilasi Selatan, yaitu anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.

 Puncak Carstensz

Sumber gambar, Project Pressure/Klaus Thymann

Keterangan gambar, Peta tiga dimensi keberadaan lapisan es di Puncak Carstensz yang disusun oleh Klaus Thymann, akhir 2025.

Di sebelah Puncak Carstensz terdapat puncak salju lain yang disebut orang adat Amungme sebagai Ngga Pilimsit—atau Puncak Idenburg, merujuk nama Alexander Idenburg yang pernah menjabat Gubernur Hindia Belanda pada 1909-1916.

Ngga Pilimsit, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Puncak Cartensz kehilangan seluruh lapisan esnya pada 2003.

Sementara itu lapisan es di Ettiakup, atau yang sejak pemerintahan Indonesia di Tanah Papua disebut Puncak Trikora, telah hilang selama periode 1939 hingga 1962.

Puncak Mandala

Sumber gambar, Rijksvoorlichtingsdienst

Keterangan gambar, Lapisan es di Aplim Apom atau Puncak Mandala pada 1959.

Adapun Aplim Apom, atau Puncak Mandala, yang berada di Pegunungan Bintang hampir tak pernah didaki dan diteliti sejak kedatangan tim riset asal Belanda pada 1959.

Namun berdasarkan citra satelit, riset pada 1989 mengukur lapisan es di puncak itu seluas 1,5 hektare. Lapisan es itu sudah tak terlihat lagi pada citra satelit yang diabadikan pada Maret 2003.

'Kami tak bisa mengubah sejarah'

Elfrida kini telah kembali ke Oregon, meninggalkan kampung halamannya sejauh ribuan kilometer, setidaknya untuk sementara—sampai dia menyelesaikan pendidikan tingginya.

Walau begitu, "panah putih" yang tidak lagi bersalju dan perubahan sosial yang terjadi di tanah leluhurnya tak bisa hilang dari pemikirannya.

"Sebagai generasi ketiga dari Tuarek Natkime, saya tidak bisa mengubah sejarah," ujarnya.

"Apa yang menjadi keputusan tete (kakek) dan bapak sudah mereka buat, dengan kehadiran tambang ini. Saya tidak tahu bagaimana kondisinya dulu sehingga mereka mengambil keputusan itu.

"Tapi di mana pun itu selalu ada hal baik dan buruk," kata Elfrida.

Elfrida Natkime, Tuarek Natkime

Sumber gambar, Dokumen pribadi

Keterangan gambar, Elfrida berziarah ke makam kakeknya, Tuarek Natkime.

Gunung keramat milik keluarga Natkime telah berlubang hingga ke bawah tanah. Lapisan es di Nemangkawi yang menjadi pusat spiritualitas adat mereka juga telah meleleh.

Di tengah berbagai perubahan itu, Elfrida bertekad segera menyelesaikan pendidikannya di bidang pertanian berkelanjutan. Setelah itu dia ingin pulang kampung dan ikut melanjutkan tradisi bertani orang-orang Amungme di lembah Nemangkawi.

"Saya tidak mau terlalu larut dalam itu (perubahan dan kerusakan alam)," kata Elfrida.

"Justru yang sekarang saya fokuskan, dan semoga juga bisa menjadi contoh buat adik-adik saya, bahwa selain emas, kita punya tanah, punya kampung, yang Tuhan sudah kasih.

"Ini harus kami jaga terus untuk menuju keseimbangan. Kalau tidak, kalau alam ini habis, kita juga akan habis," ujarnya.

Elfrida Natkime

Sumber gambar, Dokumen Pribadi

Keterangan gambar, Elfrida Natkime memegang biji kopi yang ditanam di sekitar kaki Nemangkawi. Dia berpose bersama sejumlah perempuan Amungme yang tinggal di wilayah tersebut.

Sementara di pesisir Timika, Adolfina kini masih terus bersuara tentang hak orang adat Amungme, Kamoro, dan Sempan yang disebutnya terenggut ekstraktivisme.

Berbagai kali di Timika telah tercemar dan mendangkal. Dia berkata, warga kehilangan sumber pangan dan juga ruang hidup.

Awal Juli lalu dia datang ke Gedung DPR di Jakarta untuk menyampaikan keluh kesah warga adat yang dia dampingi.

"Pada 2017, Kementerian Lingkungan Hidup punya data tentang AMDAL, di situ yang tertulis hanya kerugian negara. Memangnya itu tanahmu sendiri? Negara itu dari mana? Di situ ada masyarakat adat," ujarnya di hadapan Komisi IV DPR.

papua, freeport

Sumber gambar, Greenpeace/Jurnasyanto Sukarno

Keterangan gambar, Potret limbah pertambangan PT Freeport Indonesia yang mengalir hingga pesisir selatan Mimika.

Di Sugapa, Intan Jaya, Justinus Sondegau harap-harap cemas menanti telepon dari Timika. Dia menunggu agen memintanya terbang ke Timika, untuk mendampingi pendaki naik ke Puncak Carstensz.

Di tengah penantiannya, Justinus punya harapan lain. Dia ingin konflik bersenjata di Intan Jaya segera berakhir. Saat kehidupan "sudah seperti dulu lagi", Justinus berencana mengajak turis dan pendaki naik ke Bula Pigu, gunung di sisi utara kampungnya.

"Saya punya keinginan besar kita bisa bikin sesuatu di puncak Bula, lalu orang bisa main dan liburan ke atas, cari capai, begitu bisa," ujarnya.

"Untuk wisata, Gunung Bula ini paling bagus," kata Justinus.

Tidak ada yang tahu kapan konflik bersenjata akan selesai selamanya di Intan Jaya. Tapi kalaupun suara senjata dan bom tak lagi terdengar di kabupaten itu, Justinus belum tentu bisa mewujudkan cita-citanya di Bula Pigu.

Sejak awal 1990-an, gunung itu telah diincar investor karena mengandung emas. Masyarakat Indonesia mengenal gunung itu dengan sebutan Blok Wabu.

Endy Langobelen dan Ikbal Asra berkontribusi pada liputan ini.