Roket SpaceX tabrak bulan – Mengapa ini kabar baik bagi ilmuwan?

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Pallab Ghosh
- Peranan, Koresponden Sains
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Roket SpaceX diyakini telah menabrak Bulan baru-baru ini dan membentuk kawah baru di permukaannya.
Meski tidak direncanakan, insiden ini malah menjadi "berkah" pengetahuan bagi para ilmuwan, dan berpotensi membantu misi-misi eksplorasi Bulan di masa depan.
Bagian atas roket Falcon 9 yang sudah kosong menghantam Bulan pada Rabu (05/08) dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam.
Tabrakan tersebut menghasilkan kilatan cahaya singkat yang dramatis. Namun, bahkan dengan teleskop canggih, astronom amatir kemungkinan besar akan sulit menangkap momen itu.
Sementara itu, sejumlah observatorium besar di Benua Amerika kini tengah menganalisis data yang diperoleh dari peristiwa tersebut.
Para ilmuwan memperkirakan masih diperlukan beberapa hari, bahkan mungkin beberapa pekan, sebelum bisa mendapat gambaran lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan memetik pelajaran dari insiden itu.
Namun bagi para geolog planet, tabrakan yang tidak disengaja ini merupakan sebuah "hadiah" bagi dunia sains.

Sumber gambar, Reuters
Falcon 9 milik SpaceX merupakan roket yang dapat digunakan kembali dan telah diterbangkan dalam berbagai misi antariksa. Desainnya memungkinkan sebagian roket kembali ke Bumi, sementara bagian lainnya dilepaskan dan tetap berada di luar angkasa.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Roket ini diluncurkan dari Florida pada Januari 2025 dengan membawa dua wahana pendarat Bulan.
Tugas utama roket tersebut adalah memberikan dorongan yang cukup kuat melalui tahap atasnya agar kedua pendarat itu dapat keluar dari orbit Bumi dan melanjutkan perjalanan menuju Bulan. Misi tersebut berhasil dijalankan.
Setelah tugasnya selesai, bagian atas roket yang panjangnya setara gedung lima lantai dan berbobot sedikitnya 4.000 kilogram itu dibiarkan melayang dalam orbit panjang yang membawanya mendekati Bulan sebelum kembali menjauh.
Selama 18 bulan berikutnya, lintasannya perlahan dipengaruhi oleh tarikan gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari. Bahkan, cahaya Matahari turut memberikan dorongan, meski sangat kecil.
Astronom yang melacak pergerakan bagian roket tersebut akhirnya menyimpulkan bahwa pengaruh-pengaruh kecil itu telah mengubah lintasannya ke arah Bulan. Seiring waktu, kecepatannya pun terus bertambah dari hari ke hari.
Tabrakan yang terjadi sekitar pukul 01.35 EDT (sekitar pukul 12.35 siang WIB) pada Rabu (05/08) berlangsung saat banyak wilayah di dunia sedang mengalami siang hari.
Kilatan cahaya yang dihasilkannya begitu redup sehingga tidak mungkin terlihat, bahkan dengan teleskop.
Astronom amatir yang melakukan pengamatan dari wilayah yang sedang gelap pun nyaris tidak memiliki peluang untuk melihat kilatan tersebut, karena hanya berlangsung sepersekian detik, serta terjadi di bagian permukaan Bulan yang sedang disinari Matahari.
Karena itu, semburan debu yang membentang hingga sekitar 100 kilometer dan bertahan selama beberapa menit pun kemungkinan sulit diamati.
Bahkan, pesawat antariksa yang tengah mengorbit Bulan tidak berada di lokasi yang tepat untuk menyaksikan tabrakan itu secara langsung.
Orbiter Danuri milik Korea Selatan memiliki peluang terbaik karena sempat melintas di dekat lokasi tabrakan sesaat sebelum terjadi.
Tim Danuri mengatakan kepada media Korea Selatan bahwa rekaman apa pun yang mungkin diperoleh baru akan dirilis setelah para peneliti menyelesaikan analisis mereka.
Dalam beberapa hari ke depan, Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA akan berada pada posisi yang memungkinkan untuk memotret lokasi tabrakan tersebut. Citra yang diperoleh nantinya dapat dibandingkan dengan foto-foto yang diambil sebelum peristiwa itu terjadi.

Sumber gambar, NASA
Data ilmiah, dan kemungkinan juga gambar-gambar pertama dari peristiwa tersebut, diperkirakan akan diperoleh dari teleskop-teleskop canggih di Benua Amerika, wilayah yang saat itu masih berada dalam kondisi malam.
Meski demikian, mendeteksi tumbukan objek sepanjang sekitar 14 meter yang menghantam permukaan Bulan dari jarak 385.000 kilometer bukan perkara mudah, meskipun bukan berarti mustahil.
Proses pengolahan citra untuk menghasilkan gambar yang lebih jelas dapat memakan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sebab, para ilmuwan harus memeriksa dan menganalisis data yang terkumpul terlebih dahulu.
Namun, gambar kawah baru tersebut yang diambil dari wahana pengorbit Bulan sangat dinantikan para ilmuwan.
Karena para peneliti telah mengetahui secara pasti ukuran, kecepatan, dan lokasi tumbukan roket tersebut, peristiwa ini tidak lagi sekadar kecelakaan acak.
Sebaliknya, tabrakan ini menjadi eksperimen langka yang berlangsung dalam kondisi yang relatif terukur.
Bagi ilmuwan yang mempelajari geologi planet, momen seperti ini merupakan peluang yang sangat berharga.
Mereka dapat menguji model yang digunakan untuk memahami bagaimana tumbukan membentuk kawah, menyebarkan material ke permukaan sekitarnya, serta mengirimkan getaran hingga ke bagian dalam Bulan.
Pengetahuan tersebut memiliki manfaat praktis yang nyata.
Pemahaman tentang seberapa banyak batuan dan debu yang terlontar akibat tumbukan dapat membantu para insinyur merancang wahana pendarat yang lebih aman dan mendukung pembangunan pangkalan di Bulan pada masa depan.
Data itu juga dapat digunakan untuk memperkirakan seberapa jauh material akan terpental dan seberapa kuat guncangan yang mungkin terjadi di sekitar lokasi tumbukan.

Sumber gambar, Mark Garlick/Science Photo Library via Getty Images
Material yang terlontar dari bawah permukaan Bulan dapat memberikan petunjuk baru mengenai geologinya.
Temuan ini akan membantu melengkapi pengetahuan para ilmuwan tentang bagaimana sistem Bumi-Bulan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
Ini bukan kali pertama benda buatan manusia menghantam Bulan.
Sejak 1959, puluhan wahana antariksa telah jatuh ke permukaannya, sebagian karena kecelakaan dan banyak lainnya sengaja ditabrakkan demi kepentingan penelitian ilmiah.
Wahana Soviet Luna 2 menjadi yang pertama melakukannya.
Setelah itu, sejumlah wahana Ranger milik NASA pada 1960-an, beberapa tahap roket dari era program Apollo, hingga misi LCROSS pada 2009 juga menghantam Bulan.
Dalam kasus LCROSS, tumbukan itu sengaja dilakukan untuk mencari keberadaan es air.
Tabrakan tidak disengaja terakhir yang berhasil dikonfirmasi terjadi pada 2022.
Benda yang menghantam Bulan saat itu diyakini merupakan pendorong roket yang tersisa dari misi Bulan China yang diluncurkan pada 2014.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa sampah antariksa semacam ini telah diam-diam menumpuk di atas kepala kita selama lebih dari setengah abad.































