Siapa Robert Kraft, miliarder berpengaruh yang menjadi pusat kontroversi tur Ed Sheeran di AS?

Siapakah sebenarnya sosok Robert Kraft (foto atas), dan mengapa dia memiliki pengaruh yang begitu besar?

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Siapakah sebenarnya sosok Robert Kraft (foto atas), dan mengapa dia memiliki pengaruh yang begitu besar?
    • Penulis, Redacción
    • Peranan, BBC News Mundo
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Penyanyi asal Inggris Ed Sheeran menghadapi kontroversi terbesar dalam kariernya, dan di pusat polemik tersebut terdapat seorang pengusaha miliarder: Robert Kraft.

Kraft, antara lain, adalah pemilik New England Patriots, tim sepak bola Amerika tempat Tom Brady, yang dianggap sosok penyerang tersukses dalam sejarah NFL, meraih ketenarannya.

Dia juga memiliki Gillette Stadium, yang terletak di pinggiran kota Boston.

Di stadion itulah Ed Sheeran dijadwalkan tampil sebagai bagian dari tur suksesnya di Amerika Serikat, Loop Tour.

Dan di situlah kontroversi bermula.

Seluruh artis tamu yang semula dijadwalkan tampil mendampingi penyanyi Inggris tersebut, yang merupakan salah satu musisi dengan penjualan album terbesar di dunia, memutuskan meninggalkan proyek itu setelah rapper Macklemore dikeluarkan dari daftar penampil.

Keputusan itu diambil setelah Macklemore menyampaikan komentar yang mendukung seruan "Palestina merdeka" dalam sejumlah penampilannya selama rangkaian tur tersebut.

Macklemore, yang dikenal vokal membela hak-hak warga Palestina serta mengkritik kampanye militer Israel di Gaza dan pendudukan Tepi Barat, membuat Kraft geram.

Menurut pengakuan sang rapper, Kraft menekan para pemilik venue lain dalam rangkaian tur tersebut agar melarangnya tampil.

Pengusaha Yahudi itu berpendapat bahwa tindakannya didasarkan pada apa yang dia sebut sebagai bagian dari "sejarah yang lebih luas mengenai retorika dan simbolisme antisemit" yang ditunjukkan oleh sang rapper, yang menurutnya "sangat menyinggung dan menyakitkan bagi komunitas Yahudi."

Salah satu venue lain yang juga melarang Macklemore berpartisipasi dalam tur tersebut adalah Raymond James Stadium di Florida.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Salah satu venue lain yang juga melarang Macklemore berpartisipasi dalam tur tersebut adalah Raymond James Stadium di Florida.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sheeran, yang tampil menyanyi di pernikahan Kraft pada 2022, menegaskan bahwa keputusan untuk mengeluarkan Macklemore bukan dibuat olehnya, melainkan oleh promotor tur, Messina Touring Group.

Penyanyi Inggris itu menyatakan bahwa dia tidak terlibat dalam keputusan tersebut dan menekankan bahwa penentuan daftar penampil pendukung berada di tangan pihak penyelenggara tur.

Meski demikian, kontroversi itu terus memicu perdebatan di kalangan penggemar dan pelaku industri musik, terutama terkait kebebasan berekspresi, sikap politik para musisi, serta pengaruh pemilik venue dan pihak-pihak berkepentingan lainnya terhadap penyelenggaraan konser.

Pihak perusahaan menyatakan bahwa rapper tersebut dicoret dari daftar penampil karena sejumlah venue, termasuk Gillette Stadium milik Kraft, menolak menjadi tuan rumah konser apabila dia tetap terlibat.

Menurut promotor, jika Macklemore tetap dipertahankan dalam susunan acara, rangkaian tur tersebut terpaksa harus dibatalkan.

Situasi ini memicu kritik terhadap Sheeran karena dianggap menerima keputusan tersebut tanpa memberikan perlawanan yang berarti.

Namun, siapakah sebenarnya Robert Kraft, dan mengapa dia memiliki pengaruh yang begitu besar?

Pengusaha berpengaruh

Di luar kontroversi tersebut, Robert Kraft merupakan salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Amerika Serikat.

Robert menjabat sebagai ketua dan kepala eksekutif Kraft Group, konglomerasi yang memiliki investasi di sektor kertas, pengemasan, properti, modal ventura, dan hiburan.engusaha berusia 85 tahun itu diperkirakan memiliki kekayaan sekitar US$15 miliar.

Didorong keprihatinannya terhadap meningkatnya antisemitisme di berbagai belahan dunia, Kraft mendirikan Together Beat Hate Foundation, sebuah yayasan yang bertujuan memerangi masalah tersebut.

Untuk mendukung inisiatif itu, dia menyumbangkan dana pribadi sebesar US$20 juta, yang kemudian dilengkapi dengan kontribusi dari para donor lainnya.

Lahir di Brookline, Massachusetts, Kraft mengenyam pendidikan dasar dan menengah di sekolah-sekolah negeri sebelum melanjutkan studi ke Universitas Columbia melalui beasiswa akademik.

Keputusan itu diambil meskipun ayahnya, seorang Yahudi Ortodoks, berharap dia menempuh jalur keagamaan dan menjadi rabi.

Baca juga:

Setelah lulus pada 1963, dia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Harvard Business School, tempat dia meraih gelar magister administrasi bisnis.

Lima tahun kemudian, Kraft mendirikan perusahaan pengemasan pertamanya dan menjadi salah satu pelopor dalam industri pengemasan untuk sektor makanan.

Langkah itu menjadi fondasi bagi kerajaan bisnis yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu miliarder paling berpengaruh di Amerika Serikat.

Pengusaha itu juga menjalin hubungan dekat dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Pengusaha itu juga menjalin hubungan dekat dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Pada 9 Januari 2019, dia menerima Genesis Prize, yang kerap dijuluki sebagai "Nobel Yahudi", dari Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.

Saat menerima penghargaan tersebut, Kraft meminta agar hadiah uang senilai US$1 juta yang menyertainya dialokasikan untuk mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan memerangi antisemitisme serta upaya yang dianggap mendelegitimasi Israel.

Sahabat Trump

Media-media Amerika Serikat menyebut Kraft telah bersahabat dengan Donald Trump selama sekitar 25 tahun, sebuah hubungan yang mengalami pasang surut dari waktu ke waktu.

Meski Kraft mengatakan pada 2024 bahwa dia sudah tidak berbicara dengan Trump selama beberapa tahun, keduanya tetap menjalin hubungan yang baik sebelum maupun sesudah pemilihan presiden AS pada 2016.

Mereka juga beberapa kali terlihat bersama selama masa jabatan kedua presiden dari Partai Republik tersebut.

Kraft diketahui menghadiri pernikahan Trump dan juga terlihat berada di ruang khusus (box) milik Trump pada pemutaran perdana "Melania", film dokumenter yang mengisahkan kehidupan Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump.

Hubungan Kraft dengan Trump menambah daftar panjang koneksi politik dan bisnis yang dimiliki miliarder tersebut, sekaligus memperkuat citranya sebagai salah satu tokoh berpengaruh di lingkaran elite Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kraft semakin memusatkan pengaruh dan aktivitasnya pada upaya memerangi antisemitisme serta mendukung Israel.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dalam beberapa tahun terakhir, Kraft semakin memusatkan pengaruh dan aktivitasnya pada upaya memerangi antisemitisme serta mendukung Israel.

Episode yang melibatkan Macklemore menyoroti besarnya pengaruh yang dimiliki sang miliarder, bukan hanya di industri hiburan, tetapi juga di ranah politik Amerika Serikat.

Keluarga Kraft termasuk salah satu keluarga yang paling menonjol dalam kegiatan filantropi di Amerika Serikat.

Empat putranya dari mendiang istrinya, Myra, yaitu Jonathan, Daniel, Josh, dan David Kraft, terlibat aktif dalam pengelolaan berbagai bisnis dan waralaba yang berada di bawah naungan konglomerasi keluarga tersebut.

Seperti ayah mereka, keempatnya juga mendukung beragam kegiatan amal dan inisiatif yang berkaitan dengan anak-anak, kesehatan, olahraga usia muda, hak-hak perempuan, serta berbagai program di Amerika Serikat dan Israel.

Kraft juga merupakan anggota dewan wali emeritus Universitas Columbia dan Dana-Farber Cancer Institute, serta pernah duduk dalam badan pengelola sejumlah lembaga ternama seperti Boston College, Carnegie Hall, dan Apollo Theater.

Selain itu, dia pernah menjadi anggota Federal Reserve Bank of Boston.

Pada 1994, Kraft membeli New England Patriots dengan nilai US$172 juta.

Kini, nilai waralaba tersebut diperkirakan mencapai US$10,6 miliar, menjadikannya salah satu tim olahraga paling bernilai di Amerika Serikat.

Kontroversi terbesar dalam karier Ed Sheeran

Bagi banyak pihak, ini tidak diragukan lagi merupakan krisis terbesar yang pernah dihadapi Ed Sheeran sepanjang kariernya.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Bagi banyak pihak, ini tidak diragukan lagi merupakan krisis terbesar yang pernah dihadapi Ed Sheeran sepanjang kariernya.

Bagi banyak pihak, ini tidak diragukan lagi merupakan krisis terbesar yang pernah dihadapi Ed Sheeran sepanjang kariernya.

Sebagian daya tarik Sheeran, selain lagu-lagunya yang mudah diingat, terletak pada citranya sebagai sosok "anak baik" di industri musik, bahkan sebagai pribadi yang terkesan biasa dan mudah didekati.

Selama bertahun-tahun, dia dengan cermat membangun citra publik yang ramah dan inklusif, di mana semua orang merasa diterima.

Namun justru citra itulah yang kini berpotensi berbalik merugikannya, kata Mark Savage, jurnalis BBC yang mengkhususkan diri pada bidang musik.

Menurut Savage, Sheeran selama ini menegaskan bahwa dia tidak ingin menggunakan platform profesionalnya untuk membahas isu-isu politik.

Akan tetapi, para pengkritiknya menunjukkan bahwa Macklemore merupakan teman lamanya, dan menilai Sheeran telah mengambil jarak dari persoalan tersebut tanpa benar-benar terlibat.

Jurnalis musik Jeffrey Ingold mengatakan bahwa kesan penerimaan Sheeran terhadap keputusan untuk mengeluarkan Macklemore terlihat sebagai tindakan yang pengecut.

"Dia adalah salah satu musisi paling penting di dunia. Dia memiliki kekuasaan dan pengaruh. Namun pada dasarnya, dia mencuci tangan dari persoalan ini dengan mengatakan, 'Ini bukan tanggung jawab saya,'" kata Ingold kepada BBC.

Sementara itu, jurnalis musik John Earls menilai kontroversi tersebut telah merugikan citra Ed Sheeran.

Pertanyaan yang kini muncul adalah: akankah para penggemarnya memaafkannya?