Iran hantam dua kapal tanker UEA di Selat Hormuz saat AS lancarkan serangan udara berturut-turut selama tiga malam

Tangkapan layar dari video yang dirilis militer AS pada 13 Juli, yang menurut mereka menunjukkan serangan terhadap sebuah fasilitas pemeliharaan di Bandar Abbas, Iran.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Tangkapan layar dari video yang dirilis militer AS pada 13 Juli, yang menurut mereka menunjukkan serangan terhadap sebuah fasilitas pemeliharaan di Bandar Abbas, Iran.
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 5 menit

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menghantam dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA) di Selat Hormuz, ketika Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan atas Iran berturut-turut.

UEA menyebut serangan itu sebagai tindakan yang "terang-terangan", seraya mengatakan seorang awak kapal berkewarganegaraan India tewas dan delapan orang lainnya mengalami luka-luka.

IRGC juga mengonfirmasi telah menargetkan fasilitas-fasilitas AS di Yordania dan Bahrain dalam serangan semalam.

Sementara itu, militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangan terhadap sejumlah target yang bertujuan melemahkan "kemampuan Iran untuk menyerang pelayaran komersial".

Harga minyak naik pada perdagangan Selasa pagi ini, dengan minyak mentah Brent menguat 1,9% menjadi US$84,87 (sekitar £63,48) per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS naik 2% menjadi US$79,75 per barel.

Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan AS akan memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengenakan biaya sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz.

Berikut yang sejauh ini diketahui.

Apa yang diketahui tentang kapal tanker yang diserang Iran?

Tim BBC Verify menelusuri pergerakan terbaru dua kapal yang menjadi sasaran serangan, yang oleh Uni Emirat Arab diidentifikasi sebagai kapal tanker minyak mentah Mombasa B dan kapal tanker gas alam cair (LNG) Al Bahiya, dengan menggunakan citra satelit.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Kapal tanker Mombasa B tidak menyiarkan lokasi publiknya selama lebih dari 10 hari sebelum serangan terjadi.

Berdasarkan data dari situs pelacakan maritim MarineTraffic, kapal tersebut berangkat dari terminal minyak Zirku di UEA pada 2 Juli dan dijadwalkan menuju Khor Fakkan, juga di UEA.

Citra satelit yang ditinjau BBC Verify menunjukkan kapal itu melakukan transfer muatan dari kapal ke kapal (ship-to-ship transfer) dengan kapal tanker lain bernama He Rong Hai di lepas pantai Fujairah pada 8 Juli.

Baca juga:

Menurut perusahaan intelijen maritim TankerTrackers, Mombasa B mengangkut sekitar 1,9 juta barel minyak UEA yang kemudian dipindahkan ke He Rong Hai.

Sementara itu, kapal tanker LNG Al Bahiya juga tidak menyiarkan lokasi publiknya selama lebih dari 14 hari.

Posisi terakhir yang diketahui menurut data MarineTraffic menunjukkan kapal itu berada di lepas pantai India bagian barat.

Namun, analisis TankerTrackers yang didukung citra satelit dan ditinjau BBC Verify menunjukkan bahwa kapal tersebut berada di dekat Ras Laffan di kawasan Teluk pada 22 Juni.

Temuan ini mengindikasikan bahwa data lokasi yang tersedia untuk publik kemungkinan telah dimanipulasi (spoofing) sehingga tidak mencerminkan posisi sebenarnya kapal tersebut.

UEA: Satu orang tewas dalam serangan Iran yang disebut "terang-terangan" atas kapal tanker di Selat Hormuz

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa dua kapal tanker menjadi sasaran rudal jelajah Iran saat melintasi Selat Hormuz di perairan Oman pada malam hari.

Menurut keterangan tersebut, serangan itu menewaskan seorang awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya.

Dari para korban yang terluka, enam orang adalah warga negara India dan dua lainnya warga negara Ukraina.

Selat Hormuz

UEA menambahkan bahwa kedua kapal tanker, Mombasa dan Al Bahiyah, mengalami kerusakan akibat serangan tersebut, yang juga memicu kebakaran di atas kapal.

Pemerintah UEA mengecam serangan yang disebutnya sebagai tindakan yang "terang-terangan" (brazen attack).

Abu Dhabi menyebut insiden itu sebagai "pelanggaran serius" dan "pelanggaran jelas" terhadap hukum internasional, seraya menegaskan bahwa pihaknya memiliki "hak penuh untuk merespons" dengan "segala langkah yang diperlukan".

Belakangan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi serangan tersebut melalui pernyataan yang dipublikasikan di Telegram.

Dalam pernyataannya, IRGC mengatakan kedua kapal tanker itu mengabaikan peringatan, mematikan sistem navigasi, dan berupaya melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau.

IRGC menambahkan bahwa "kerja sama dengan musuh agresor" hanya akan berujung pada penyesalan, kerusakan, dan tertundanya pembukaan kembali jalur pelayaran di selat tersebut, serta berpotensi memicu "krisis energi global".

AS lancarkan serangan baru saat Iran targetkan kapal tanker di Selat Hormuz

Militer AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut, sementara sejumlah kapal tanker di Selat Hormuz menjadi sasaran serangan yang diklaim dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Presiden Donald Trump mengatakan AS menyerang Iran dengan "sangat keras" di tengah meningkatnya eskalasi serangan antara kedua negara.

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menuduh Iran melakukan serangan yang "terang-terangan" terhadap dua kapal tanker di selat tersebut.

Serangan itu dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya, dengan empat korban mengalami luka berat.

IRGC mengonfirmasi serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Menurut mereka, dua kapal tanker itu mengabaikan peringatan, mematikan sistem navigasi, dan mencoba melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau.

Perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz kini mengancam upaya-upaya untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung.

Pada Senin, AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Presiden Trump juga mengatakan AS akan mengenakan biaya sebesar 20% sebagai bagian dari operasinya untuk mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut.

Trump kembali berlakukan blokade laut atas pelabuhan Iran

Presiden Donald Trump mengatakan AS akan kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta mengenakan biaya sebesar 20% untuk seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz.

Trump mengatakan langkah tersebut akan mencegah "kapal-kapal Iran maupun pelanggan Iran" masuk atau keluar melalui jalur pelayaran minyak yang strategis itu.

Namun, menurutnya, "semua negara lain akan tetap memiliki akses yang adil dan terbuka ke Selat Hormuz".

Blokade tersebut akan mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu Timur AS.

Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan bahwa pihak yang menyediakan jalur pelayaran yang aman "seharusnya memperoleh kompensasi atas layanan tersebut".

Namun, dia menegaskan Iran akan tetap menjadi "PENJAGA" Selat Hormuz, menggunakan istilah yang sebelumnya dipakai Trump.

Teheran dan Washington terlibat perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz setelah kedua pihak saling melancarkan serangan di kawasan tersebut semalam.

AS menyatakan telah menyerang sejumlah sasaran militer di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, radar pesisir, serta lokasi peluncuran rudal dan drone.

Iran mengatakan telah membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain, serta fasilitas radar di Oman.

Apa yang diketahui tentang blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran?

Seiring meningkatnya perselisihan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz, Presiden Donald Trump pada Senin mengumumkan bahwa AS akan kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Berikut yang sejauh ini diketahui:

Blokade tersebut, menurut Trump, akan mencegah "kapal-kapal Iran atau pelanggan Iran" untuk masuk atau keluar melalui Selat Hormuz, sementara semua negara lain tetap akan memiliki "akses yang adil dan terbuka" ke jalur pelayaran tersebut.

Trump juga mengatakan bahwa, "demi keadilan", AS akan mengenakan biaya sebesar 20% atas seluruh kargo yang diangkut melalui selat itu.

Selat Hormuz, Iran, AS

Sumber gambar, Reuters

Dana yang diperoleh dari pungutan tersebut, menurutnya, akan digunakan untuk menutupi biaya dalam menyediakan "keselamatan dan keamanan" di kawasan yang disebutnya sebagai salah satu wilayah paling bergejolak di dunia.

Namun, masih belum jelas bagaimana AS akan menerapkan pungutan tersebut. Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan tidak ada "dasar hukum" untuk langkah semacam itu.

Blokade tersebut akan diberlakukan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) dan dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu Timur AS.