Perjuangan warga Gayo bangun swadaya Jembatan Enang-Enang dan menembus isolasi pascabencana – 'Nggak ada harapan lain, kecuali masyarakat'

Sumber gambar, Iwan Bahagia
- Penulis, Iwan Bahagia
- Peranan, Wartawan di Banda Aceh
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 10 menit
Sore itu, sejumlah kendaraan roda dua terparkir di Jalan Takengon‑Bireuen, tidak jauh dari ujung Jembatan Enang‑Enang, jembatan yang porak‑poranda dihantam banjir dan longsor pada akhir November lalu.
Jembatan Enang‑Enang berada di Kampung Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Jembatan yang sempat dikenal angker beberapa dekade silam ini kini tidak lagi rata, dengan tikungan jalan yang rusak dan tidak dapat dilalui sejak bencana melanda tiga provinsi di Sumatera.
Padahal, jalur Takengon–Bireuen yang melintasi jembatan ini merupakan akses utama bagi warga dari Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah untuk menuju Banda Aceh.
Distribusi kebutuhan pokok—seperti beras, telur, minyak goreng, hingga ikan—yang sebelumnya melintasi jalur ini, kini terpaksa dialihkan ke rute lain. Pemerintah mengalihkan arus melalui jalur Uwer Lah dan Simpang Lancang, yang berstatus sebagai jalan kabupaten.
Namun kini, di lokasi tersebut, sebuah ekskavator tampak bekerja mengeruk bekas badan jalan menuju jembatan. Sejumlah warga berkumpul di sekitar alat berat itu, menyaksikan proses perbaikan yang kini dilakukan secara swadaya.
Upaya ini bukan datang dari proyek pemerintah, melainkan inisiatif warga sendiri, dipimpin oleh Sahrial Abadi (60), seorang mantan mukim—pemimpin kemasyarakatan di Aceh yang membawahi gabungan beberapa desa. Ia menggagas perbaikan karena dampak putusnya jembatan telah melumpuhkan kehidupan masyarakat di wilayahnya.
Perjuangan modal sendiri
Saat wartawan Iwan Bahagia berada di lokasi, deru mesin terdengar dari sebuah beko atau ekskavator yang sedang sibuk bekerja mengeruk sisa-sisa material jalan sebelum menuju jembatan.
Rencana pemerintah yang belum pasti membuat Sahrial bersama sejumlah tokoh masyarakat berpikir keras.
Mereka akhirnya memutuskan mengambil inisiatif sendiri untuk memperbaiki jalan dan jembatan Enang-Enang yang rusak.
Awalnya, perjuangan ini tidak mudah. Pihak Sahrial sempat berusaha meminjam alat berat ke sejumlah perusahaan di Bener Meriah, namun usaha tersebut berujung pada penolakan.
"Oleh sebab itu, karena tidak ada yang senggang waktunya membantu kami, maka saya berinisiatif mengumpulkan uang, ada dua atau tiga orang kami, lalu menyewa alat ke Kabupaten Bireuen sebesar Rp10 juta,' ungkap Sahrial.
Dana awal yang terkumpul itu sedianya hanya cukup untuk membiayai dua hari kerja. Saat ekskavator sewaan datang, Sahrial sempat kebingungan memikirkan bagaimana kelanjutan proyek tersebut ke depannya. Namun, apa yang terjadi berikutnya di luar dugaan.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
"Namun saya tidak menyangka, kekuasaan Allah datang, sehingga banyak hamba Allah yang membantu. Sehingga sampai sekarang lima hari kerja kami masih memiliki dana yang memadai untuk bekerja," terang Sahrial.
Gelombang bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan ke Enang-Enang. Dukungan yang masif ini membuat Sahrial optimis bahwa jalan akses menuju jembatan sangat mungkin untuk ditingkatkan kualitasnya menggunakan rabat beton.
"Yang rabat beton 300 K, yang biasa dipakai di jalan tol. Ini banyak sumbangan, ada empat trip semen curah dari hamba Allah. Jadi ini akan dibuat 6 meter sebagaimana layaknya, sehingga tidak ada kesulitan dalam pembangunannya," ungkap Sahrial.
Sahrial mengaku sangat terkejut sekaligus terharu melihat besarnya sokongan yang terus mengalir untuk pembangunan Jalan Enang-Enang ini.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Terkait keterlibatan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Sahrial menyebut memang tidak ada tanggapan ataupun pernyataan resmi. Kendati demikian, ia memastikan bahwa Penjabat Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, memberikan dukungan nyata secara personal berupa bantuan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional alat berat.
"Memang Pemkab tidak ada billing apa-apa, tetapi hari pertama kerja, beliau [Tagore Abubakar] menyumbangkan 2 jerigen, Pak Danramil 3 jerigen, hari berikutnya saya bersama rekan-rekan menanggulangi, kemudian hari ketiga ada satu drum BBM dari Pak Bupati. Terakhir tadi malam satu drum," kata Sahrial.
Hingga kini, Sahrial mengaku tidak memasang target waktu yang kaku untuk penyelesaian perbaikan jalan dan jembatan tersebut. Baginya, yang terpenting adalah proses pengerjaan terus berjalan berkat bantuan uang dan material yang terus mengalir.
"Ada juga yang menyumbang materi, doa, ini yang tidak sanggup membalasnya. Banyak sekali support, saya tidak bisa melakukan hal ini tanpa dukungan dari semua pihak, saya jelas tidak bisa karena saya orang susah, tapi saya ingin membahagiakan orang lain," tutup Sahrial.
"Gak ada harapan lain, kecuali masyarakat, selamat menikmati."
Jeritan warga yang kehilangan penghasilan
Inisiatif Sahrial untuk memperbaiki jalan bukan tanpa alasan yang kuat. Terputusnya Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo telah menyebabkan tiga desa terisolasi secara ekonomi, yakni Desa Simpang Lancang, Arul Cincin, dan Arul Gading.
Kondisi memprihatinkan tersebut sempat membuat Sahrial tidak bisa tidur selama dua malam karena terus memikirkan nasib Enang-Enang. Ia kemudian menghubungi Danramil dan Camat Pintu Rime Gayo untuk melaporkan hambatan ekonomi yang dihadapi warga.
"Sejauh ini ada dua desa yang dalam kondisi disayangkan, pertama Menderek (Desa Arul Gading) kalau dari arah Takengon, kedua Desa Arul Cincin. Di Arul Cincin ada yang unik, yaitu air aren (air nira). Namun setelah hampir tujuh bulan tidak ada lagi yang laku dan yang berjualan," jelas Sahrial.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Sebelum bencana terjadi, Desa Arul Cincin terkenal dengan puluhan warganya yang memproduksi air nira fermentasi.
Minuman siap saji itu dikemas dalam botol air mineral ukuran 600 mililiter dan dijajakan di kedai-kedai pinggir jalan.
Pengendara roda dua, roda empat, hingga angkutan umum biasanya kerap singgah untuk membeli.
"Banyak yang berhenti berjualan, ada yang jualan BBM berhenti, jualan air aren berhenti, jualan mie berhenti, jualan sayur berhenti. Banyak yang berhenti karena tidak ada pembeli, karena orang lewat tidak ada lagi. Mungkin dengan harapan mereka, lewat roda dua saja melintas, mereka sudah bisa beraktivitas kembali," sebut Sahrial.
Dampak kehancuran ekonomi ini dirasakan langsung secara nyata oleh Zanibar (53), seorang warga Dusun Sesongo, Kampung Arul Gading.
Tepat di simpang dusun tersebut, kedai miliknya yang bercat biru kini tertutup rapat oleh susunan papan. Di sebelahnya, sebuah etalase kaca tampak kosong dan berdebu, ditemani kursi-kursi plastik yang bertumpuk tidak rapi di belakangnya.
Warung makan yang dirintisnya sejak tahun 2011 itu kini mati total pascabencana yang terjadi pada 25-28 November 2025 lalu.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Sebelum petaka datang, warung mie dan toko kelontong milik Zanibar yang berada tepat di pinggir Jalan Nasional Takengon-Bireuen ini selalu ramai dikunjungi pelanggan. Kini, suasana berubah menjadi sepi senyap.
"Saya membuka warung dan kedai kelontong. Warung apa saja dijual, ada sayur masak, mie sop dan mie lainnya serta minuman seperti kopi dan teh," kata Zanibar.
Akibat berhentinya aktivitas perdagangan, stabilitas keuangan keluarga Zanibar menjadi goyah karena kehilangan sumber pendapatan harian.
"Kalau ditotalkan habis semua, tidak ada lagi penghasilan. Kalau memang jualan, sehari bisa mencapai 2 juta," ucap Zanibar.
Hingga kini, Zanibar mengaku belum menerima uluran tangan tambahan dari pihak manapun untuk memulihkan usahanya.
"Kalau bantuan sesudah bencana ini belum ada, saat bencana ada dari mana aja. Setelah bencana tidak ada lagi bantuan apa-apa," sebutnya.
Baca juga:
Demi menyambung hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya, Zanibar kini terpaksa bekerja serabutan menjadi buruh petik kopi atau cabai di kebun milik orang lain, atau yang dalam istilah lokal masyarakat Gayo disebut ongkosen—itu pun hanya jika musim panen tiba.
"Apa yang disuruh orang saya kerjakan, karena anak sekolah. Kalau gak ada uang gak bisa sekolah," lanjutnya.
Di sela-sela waktu luangnya, Zanibar mencoba memutar otak dengan melakukan jual-beli buah pinang untuk menambah pemasukan. Beberapa puluh kilogram buah pinang yang sempat ia beli sebelum bencana kini sedang ia bersihkan satu per satu di teras rumahnya.
"Sebelum bencana, saya sudah beli pinang ini sebelum bencana, kemudian dijemur. Makanya banyak yang busuk," ujar Zanibar.
Nestapa jalur alternatif
Putusnya Jembatan Enang-Enang kian mempersulit warga karena moda transportasi umum seperti bus dan angkutan antar-kota tidak lagi melewati jalur tersebut.
Angkutan umum terpaksa memutar jauh melewati Simpang Lancang menuju Uwerlah. Bagi warga seperti Zanibar yang tidak memiliki kendaraan besar, hal ini menjadi kendala yang sangat menyiksa.
"Kendala banyak, susah cari rezeki. Bagaimana tidak, naik mobil umum gak ada, mesti ke Simpang Lancang dulu. Biasanya dari Bireuen lewat sini, sekarang kan susah gak lagi. Ikan dari Bireuen sulit masuk. Kadang mau ke Takengon, ke Bireuen, suami kan orang matang," sebut Zanibar.
Untuk bisa mendapatkan angkutan umum di Simpang Lancang, Zanibar harus meminta tolong anaknya untuk mengantar terlebih dahulu menggunakan sepeda motor. Zanibar sangat berharap pemerintah segera memberikan perhatian pada pemulihan infrastruktur ini agar roda ekonomi warga bisa kembali bergerak.
"Mudah-mudahan jalan cepat bagus, kami bisa kembali beraktivitas," ungkap Zanibar.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Sahrial Abadi pun menambahkan bahwa penutupan total akses Enang-Enang melumpuhkan aktivitas perdagangan di beberapa dusun di Desa Arul Cincin dan Arul Gading, serta sebagian Desa Simpang Lancang.
Masalah tidak berhenti di situ. Warga yang memiliki lahan pertanian di lintas desa juga harus menghadapi kendala jarak dan biaya logistik yang membengkak karena harus memutar melalui jalur alternatif Simpang Lancang-Uwerlah. Jalur alternatif tersebut dinilai tidak layak, terutama saat diguyur hujan deras, sehingga menyulitkan petani mengangkut hasil bumi seperti kopi dan pinang.
"Kalau kami yang memiliki kebun di Menderek, atau Simpang Lancang atau dimana, kami harus memutar, berapa kilometer, berapa makan waktu, berapa makan minyak, dari segi ekonomi sudah termakan, sementara ekonomi dalam keadaan kurang baik, tambah harga minyak tinggi," ungkap Sahrial.
Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa jalan alternatif Simpang Lancang-Uwerlah mengalami penyempitan di beberapa titik akibat dampak bencana, sehingga tidak bisa dilalui oleh dua kendaraan roda empat secara bersamaan.
Buruknya akses di jalur alternatif ini bahkan mengganggu stabilitas pelayanan publik di tingkat kecamatan. Banyak pegawai kantor camat yang datang terlambat akibat terjebak kemacetan parah di Simpang Lancang dan Uwerlah yang bisa berlangsung hingga berjam-jam.
Secercah harapan di ujung jembatan
Respons positif dan rasa haru datang dari para pelintas jalan. Salah satunya adalah Nurlaili (36), warga Bener Meriah yang sore itu sedang berdiri di ujung Jembatan Enang-Enang bersama suami dan anak perempuannya.
Secara struktur utama, jembatan tersebut memang masih terlihat utuh, namun lantai jembatannya berada dalam kondisi miring. Dari kejauhan, mereka menyaksikan ekskavator sewaan warga sedang bekerja mengangkut bongkahan tanah dan aspal yang luluh lantak.
Nurlaili sangat berharap perbaikan swadaya ini bisa segera membuat jembatan dapat dilalui kendaraan, minimal roda dua.
Setiap minggu, Nurlaili harus menempuh jalur ini untuk menjenguk buah hatinya yang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Bireuen.
"Karena jembatan ini adalah jalan utama kami melintas ke Bireuen, karena hampir setiap minggu kami menjenguk anak kami di Pondok Pesantren Nurul Islam di Blang Rakal. Maka adanya swadaya masyarakat, kami sangat senang mendengarnya," sebut Nurlaili saat ditemui pada Senin (01/06).

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Nurlaili menambahkan bahwa kondisi jalur pengalihan yang ada saat ini sudah semakin memprihatinkan dan dipenuhi risiko keselamatan.
"Kendalanya (jalan alternatif), kalau hujan tidak bisa dilewati, licin, sekarang sudah banyak jalannya yang rusak," ungkap Nurlaili.
Melihat urgensi yang ada, Nurlaili berharap pemerintah tidak tinggal diam dan segera turun tangan membantu percepatan perbaikan Jembatan Enang-Enang.
Sejarah gotong royong Jembatan Enang-Enang
Bagi masyarakat setempat, Enang-Enang bukan sekadar jalur transportasi biasa, melainkan sebuah situs yang memiliki nilai historis yang mendalam.
Sebelum pengerjaan fisik dimulai, Sahrial bersama para pejabat tingkat kecamatan sempat turun langsung meninjau lokasi pascabencana.
Momen peninjauan tersebut diwarnai suasana haru.
"Begitu saya turun ke Enang-Enang, teman-teman saya meneteskan air mata penuh kesedihan, kenapa? Karena biasanya Enang-Enang ini selalu dilalui, dan tempat sejarah. Semasa kakek nenek kita dulu, ini dikerjakan secara rodi, jadi sungguh disayangkan kalau itu kita tinggalkan," lanjutnya.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Hingga menjelang bulan ketujuh setelah bencana, Sahrial mengaku belum menerima konfirmasi atau pemberitahuan resmi dari pihak berwenang mengenai rencana pembangunan kembali jalan dan Jembatan Enang-Enang di titik semula.
Berdasarkan informasi yang beredar, pemerintah pusat kabarnya sedang menyiapkan rencana pemindahan trase jalan Takengon-Bireuen ke lokasi baru dengan konsep jembatan layang.
"Informasi yang berkembang di masyarakat itu jembatan layang. Kami terus terang saja kami masyarakat Bener Meriah, sangat mendambakan program pemerintah itu. Namun itu butuh waktu, mungkin 2029 atau 2030 mungkin baru ada akses," sebut Sahrial.
Karena jangka waktu proyek pemerintah dinilai terlalu lama, warga memilih bergerak mandiri terlebih dahulu demi menyambung hidup mereka yang terputus.
Penjelasan BPJN Aceh soal risiko jembatan
Di sisi lain, Kasatker Pembangunan Jalan Nasional (PJN) Wilayah III Aceh, M Abdul Azis G., memberikan mengklarifikasi status jalan tersebut.
Dia membenarkan bahwa Jalan dan Jembatan Enang-Enang memegang status sebagai Jalan Nasional. Aziz menjelaskan bahwa sesaat setelah bencana banjir dan longsor terjadi pada akhir November, pihak BPJN langsung bergerak cepat membuka jalan alternatif karena dataran tinggi Gayo saat itu benar-benar terisolasi.
"Pertama Enang-Enang berstatus Jalan Nasional. Kedua ketika bencana terjadi, pada Desember kita membuka akses supaya ke Takengon tidak terisolir, sehingga bagaimana carinya kami upayakan bagaimana caranya bisa tembus ke Takengon dari Bireuen, dan 25 hari bisa tembus ke Takengon," kata Aziz.
BPJN Aceh mengalihkan arus kendaraan ke jalur alternatif Simpang Lancang-Uwerlah karena rute tersebut dinilai lebih aman dan layak dari sisi geometrik jalan jika dibandingkan dengan memaksakan lintasan Enang-Enang yang telah rusak.
"Ketiga, kenapa kita alihkan ke jalan alternatif, karena secara geometrik dan kenyamanan pengendara itu lebih layak," ucap dia.
Lebih lanjut, Aziz memaparkan alasan teknis mengapa pemerintah tidak melakukan perbaikan langsung di titik Jembatan Enang-Enang yang lama. Berdasarkan hasil kajian tim teknis, jembatan lama tersebut sudah mengalami kerusakan struktur yang fatal.
"Secara struktur jembatan sudah tidak dapat kita gunakan lagi. Kedua, secara geometrik, ada tiga titik tikungan kemiringan yang lebih dari 20 persen, artinya ketika kita gunakan, itu sangat berbahaya sekali. Itu kenapa kita tinggalkan (pembangunan Enang-Enang)," ujar Aziz.
Mengenai kelanjutan proyek permanen, Aziz mengungkapkan bahwa pemerintah pusat telah menjadwalkan pembangunan jembatan baru di Enang-Enang pada tahun 2027, di mana proses pengerjaan saat ini baru memasuki tahapan perencanaan teknis dan finalisasi desain.
Baca juga:
Sebagai langkah antisipasi jangka pendek untuk mengatasi kelemahan rute alternatif Simpang Lancang-Uwerlah yang kerap dikeluhkan warga, BPJN Aceh berencana mengalokasikan anggaran guna membangun dua jembatan baru pada tahun anggaran berjalan demi mengurai titik penyempitan jalan (bottleneck).
"Jadi di jalan alternatif tersebut, kami berencana membangun dua jembatan permanen di tahun ini, di lokasi yang sempit di Uwerlah dan Simpang Lancang, supaya akses ke Takengon bisa mudah dilalui. Sambil menunggu kontruksi permanen Enang-Enang," ungkap dia.
Pihak BPJN meminta masyarakat untuk memahami situasi darurat pascabencana ini dan mengutamakan keselamatan dengan tetap menggunakan jalur alternatif resmi yang disediakan, sembari menunggu realisasi pembangunan infrastruktur permanen.
"Kami menghimbau warga agar bersabar dulu dan kami sarankan melewati jalan alternatif, karena Jalan Enang-Enang berbahaya, kami sarankan lebih baik cari jalan alternatif walau sedikit jauh, karena ini bencana, bukan keinginan kami," pungkas dia.
Namun, Moch Aziz menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan aksi gotong royong yang ditunjukkan oleh Sahrial dan warga sekitar.
"Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian warga setempat, dan menjadi atensi kami. Dan kami masih berupaya membangun Jembatan Enang-Enang," tutup dia.































