Bagaimana dua suporter dibayar hampir Rp1 miliar untuk menonton setiap pertandingan Piala Dunia

Sumber gambar, TIMOTHY A. CLARY / AFP via Getty Images
- Penulis, Nada Tawfik
- Peranan, Koresponden Amerika Utara
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Piala Dunia kini semakin intens, dengan enam pertandingan yang dijadwalkan setiap hari hingga akhir babak penyisihan grup. Saking intensnya, kegiatan menonton tiap pertandingan terasa seperti pekerjaan penuh waktu.
Kegiatan menonton Piala Dunia sebagai pekerjaan, telah menjadi kenyataan bagi Kevin Akoto dan Austin Franklin, yang masing-masing dibayar US$50.000 (setara Rp895 juta) untuk menonton seluruh 104 pertandingan Piala Dunia.
BBC menemui kedua penggemar sepak bola tersebut, tepat setelah sepekan lebih mereka menjalani peran sebagai "Chief World Cup Watchers" dari Fox One untuk melihat seperti apa pengalaman yang mereka rasakan.
Sangat sulit untuk melewatkan bilik kaca khusus yang dibangun di tengah Times Square, New York, tempat para penggemar bisa mengintip ke dalam. Ruangan tersebut dilengkapi dengan kursi sandaran, sofa kulit cokelat yang serasi, dua televisi layar besar, dan bahkan meja bola foosball.
Baca juga:
Ruangan kaca itu juga dipenuhi berbagai merchandise sepak bola dan camilan agar terasa seperti tempat nongkrong suporter sejati.
"Ini seperti impian semua anak muda umur 20-an. Kalau bisa memasukkan apa saja ke sini, barang-barang inilah yang akan kamu pilih sebagai pencinta bola," kata Kevin kepada BBC.
Kevin, seorang juru masak dari Florida, dan Austin, seorang influencer dari Philadelphia, berhasil menyisihkan ribuan pendaftar lain untuk posisi ini. Tugas mereka tidak hanya menonton setiap laga, tetapi juga membuat konten untuk para penggemar.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dengan sisa waktu beberapa minggu lagi, mereka mengaku harus pintar-pintar menjaga stamina.
"Saya sempat kelelahan, Austin juga sedikit kelelahan, jadi kami harus belajar untuk terus mengimbangi semua jadwal yang ada," ujar Kevin.
Austin setuju dan menyamakan pengalaman ini seperti ikut perkemahan musim panas, di mana hari demi hari mulai terasa campur aduk.
"Ini benar-benar maraton. Pekerjaannya lumayan mudah, saya cuma duduk di sofa menonton bola, tapi ternyata cukup melelahkan dan saya harus memastikan bisa tidur delapan jam saat ada waktu," tambah Austin.
Untungnya, pekerjaan ini tidak mengharuskan mereka tidur di dalam kotak kaca Times Square tersebut, jadi mereka bisa pulang setelah giliran kerja selesai untuk memulihkan tenaga demi hari berikutnya.
Sejauh ini, keduanya sudah menyaksikan momen-momen bersejarah. Mereka melihat Lionel Messi memecahkan rekor gol sepanjang masa Piala Dunia saat mereka sedang menyantap barbekyu khas Argentina. Keuntungan lain dari pekerjaan ini adalah mereka disajikan makanan khas dari negara-negara yang sedang bertanding.
Di sela-sela pertandingan, mereka juga berkesempatan mengobrol dengan para suporter, seperti ribuan warga Brasil yang memadati Times Square. Kawasan wisata itu memang menjadi magnet bagi para pengunjung Piala Dunia, termasuk warga Norwegia yang memamerkan selebrasi dayung Viking mereka yang terkenal di sana.

Sumber gambar, IMAGN IMAGES via Reuters/Vincent Carchietta
Austin mengatakan itu adalah bagian favoritnya—bertemu dengan para penggemar dari seluruh dunia dan mengobrol tentang sepak bola, budaya, serta kesan mereka selama di AS.
"Bagian paling aneh adalah betapa seringnya saya lupa kalau saya sedang berada di Times Square dan ditonton orang banyak. Saya bisa fokus menonton pertandingan selama 10 atau 15 menit sampai larut dalam suasana, lalu saat menoleh ke kanan, saya melihat Kevin dan semua orang yang berjalan-jalan di Times Square. Anda benar-benar bisa lupa seketika."
Bagaimana prediksi mereka soal Piala Dunia 2026?
Kevin bertaruh Spanyol akan membawa pulang trofi emas, meskipun dia mendukung AS dan Ghana karena faktor asal-usulnya.
Sementara itu, Austin mengenakan jersi Norwegia, bukan karena alasan pribadi, melainkan karena kagum dengan permainan mereka dan striker Manchester City, Erling Haaland, sejauh ini.
"Menurut saya, terlalu biasa kalau cuma menebak Spanyol atau Prancis yang menang. Saya rasa Norwegia sudah sangat dekat dengan level itu. Jika keberuntungan berpihak pada mereka, saya sangat yakin mereka bisa membawa pulang trofi tersebut," katanya.
Namun, para penonton lain berbeda pendapat tentang apakah mereka mau melakukan hal yang sama seperti Kevin dan Austin.
Penggemar timnas Norwegia, Eimund Liland, 52 tahun, dan putrinya Camille, 15 tahun, menilai menonton seluruh 104 pertandingan tanpa adanya privasi mungkin akan terasa seperti "overdosis".
Dan Matthew Mendez, 18 tahun, memberi tahu BBC bahwa menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga akan menjadi cara yang lebih seru untuk menikmati Piala Dunia.
Namun, Miguel Sanchez, 20 tahun, justru tidak percaya dengan keberuntungan mereka.
"Apa? Ini bahkan lebih baik daripada datang langsung ke stadion. Dibayar untuk menonton Piala Dunia? Itu gila, benar-benar gila," kata Miguel.
Diproduksi oleh Pratiksha Ghildial dan direkam oleh Andrew Sarge Herbert































