Air mata kebahagiaan, Messi torehkan satu lagi bab luar biasa dalam perjalanan kariernya di Piala Dunia

Lionel Messi, Argentina, Mesir, Piala Dunia 2026

Sumber gambar, Chris Brunskill/Fantasista/Getty Images

Keterangan gambar, Lionel Messi berdiri di tengah Stadion Atlanta dengan mata sembap dan air mata mengalir deras.
    • Penulis, Phil McNulty
    • Peranan, Chief football writer at Atlanta Stadium
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Lionel Messi berdiri di tengah Stadion Atlanta dengan mata sembap dan air mata mengalir deras.

Dia terisak di pelukan rekan-rekan setimnya setelah menambah satu lagi kemenangan luar biasa di Piala Dunia ke dalam kisah gemilang kariernya.

Ikon olahraga terbesar Argentina itu sebelumnya sempat tertangkap kamera layar raksasa stadion menengadah dengan wajah penuh keputusasaan ketika sang juara bertahan tertinggal 0-2 dari Mesir dengan waktu kurang dari 20 menit tersisa.

Pada saat itu, jika Messi menitikkan air mata, air mata tersebut mungkin akan serupa dengan yang dialami rival sezamannya, Cristiano Ronaldo, yang mengucapkan salam perpisahan emosional kepada Piala Dunia setelah Portugal kalah dari Spanyol lewat gol pada masa injury time.

Namun Argentina yang pantang menyerah ini memutuskan bahwa nasib tersebut tidak akan menimpa mereka.

Dalam salah satu aksi comeback paling dramatis yang pernah disaksikan di Piala Dunia, mereka mencetak tiga gol hanya dalam 14 menit untuk membalikkan keadaan.

Meski kini berusia 39 tahun dan kerap bermain dengan tempo yang lebih lambat, sentuhan magis Messi belum luntur dimakan waktu.

Lionel Messi, Argentina, Mesir, Piala Dunia 2026

Sumber gambar, Chris Brunskill/Fantasista/Getty Images

Keterangan gambar, Messi merayakan golnya saat laga melawan Mesir di babak 16 besar.

Messi mengamati. Messi menunggu. Messi menghemat energinya untuk momen yang benar-benar menentukan. Mungkin tubuhnya tak lagi secepat dulu, tetapi ketajaman pikirannya tetap luar biasa. Kejeniusan itu bersifat abadi.

Dan sekali lagi dia membuktikannya dengan cara yang paling dramatis.

Dalam satu lagi malam Piala Dunia yang memacu adrenalin, Messi memimpin Argentina bangkit dari keterpurukan tepat saat Mesir nyaris menambah daftar kejutan besar di turnamen ini.

Keterangan video, Argentina menuntaskan kebangkitan luar biasa untuk mengalahkan Mesir.

Mesir unggul lewat gol yang masing-masing tercipta di babak pertama melalui Yasser Ibrahim dan Mostafa Zico.

Zico sebenarnya sempat mencetak gol lebih awal, tetapi gol tersebut dianulir setelah tinjauan video asisten wasit (VAR) menemukan adanya pelanggaran di sisi lain lapangan. Sementara itu, kiper Mostafa Shobeir tampil gemilang di bawah mistar.

Messi bahkan gagal memanfaatkan penalti pada babak pertama setelah tendangannya ditepis Shobeir.

Itu menjadi penalti keempat dari delapan kesempatan di Piala Dunia yang gagal dia konversi menjadi gol.

Setelah juga gagal mengeksekusi penalti saat menghadapi Austria, Messi tercatat sebagai satu-satunya pemain—di luar adu penalti—yang gagal menuntaskan dua penalti dalam satu edisi Piala Dunia.

Lionel Messi, Argentina, Mesir, Piala Dunia 2026

Sumber gambar, Wu Zhizhao/VCG via Getty Images

Keterangan gambar, Lionel Messi menguasai bola di antara adangan dua pemain Mesir.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Tapi, masih ada waktu bagi Messi untuk kembali menghadirkan momen-momen yang mengubah jalannya pertandingan dan menjauhkan Argentina dari ambang tersingkir.

Saat laga menyisakan 11 menit, umpan silangnya disambut sundulan Cristian Romero untuk memperkecil ketertinggalan dan membangkitkan harapan Argentina.

Empat menit 18 detik kemudian, Messi mencetak gol penyeimbang lewat tembakan kaki kiri yang melesat melewati jangkauan Shobeir dan membentur mistar sebelum masuk ke gawang.

Mesir telah mengerahkan segalanya. Namun perjuangan mereka akhirnya runtuh ketika Enzo Fernández mencetak gol melalui sundulan pada masa injury time, memaksa mereka menerima salah satu kekalahan paling menyakitkan di turnamen ini.

Baca juga:

Dari jurang keputusasaan menuju ledakan kegembiraan, Messi kemudian diangkat tinggi-tinggi oleh rekan-rekan setimnya di hadapan ribuan pendukung Argentina.

Para suporter bahkan tetap bertahan lama setelah peluit akhir berbunyi, menyanyikan lagu-lagu kebanggaan mereka diiringi dentuman drum yang menggema di stadion.

Inilah alasan para pemain Argentina rela melakukan kerja keras tanpa banyak sorotan.

Mereka tahu sang maestro selalu menunggu momen yang tepat untuk memenangkan pertandingan Piala Dunia bagi timnya.

Keterangan video, Penyelamatan gemilang Shobeir menggagalkan Messi dari titik penalti

Apa arti hasil ini bagi Inggris?

Apakah Messi akan benar-benar mengucapkan selamat tinggal kepada Piala Dunia jika Argentina kalah?

Saat Piala Dunia berikutnya digelar, usianya akan mencapai 43 tahun—yang akan menjadikannya pemain lapangan tertua yang pernah tampil dalam turnamen tersebut.

Meski demikian, daya tarik bermain di hadapan publik negaranya sendiri mungkin saja cukup kuat untuk membuatnya terus bertahan.

Namun skenario itu kini tidak perlu dipikirkan. Messi justru bisa menantikan laga perempat final melawan Swiss atau Kolombia.

Mantan penjaga gawang timnas Inggris, Paul Robinson, yang menyaksikan pertandingan di Atlanta untuk BBC Radio 5 Live, mengatakan:

"Itu luar biasa. Spektakuler. Argentina sudah berada di ambang kegagalan. Pada satu titik mereka praktis tersingkir dari turnamen.

Mesir sangat frustrasi dengan sejumlah keputusan wasit yang merugikan mereka. Mereka sempat memiliki gol kedua yang dianulir karena pelanggaran yang terjadi nyaris di dekat garis tepi lapangan mereka sendiri.

Lionel Messi, Argentina, Mesir, Piala Dunia 2026

Sumber gambar, Wu Zhizhao/VCG via Getty Images

Keterangan gambar, Messi gagal melesakkan bola ke gawang Mesir dalam tendangan penalti.

Lalu Lionel Messi mengambil alih pertandingan. Umpan yang indah, penyelesaian yang luar biasa untuk golnya, dan pergantian pemain yang dilakukan Argentina juga berjalan sangat efektif."

Kebangkitan Argentina—dan perlu ditegaskan bahwa ini bukan semata-mata pertunjukan satu orang bernama Messi—juga membawa konsekuensi bagi Inggris. Saat Mesir unggul, kubu Inggris mungkin sempat merasa bahwa peluang untuk mencapai final Piala Dunia putra pertama mereka sejak 1966 terbuka lebar.

Jalur menuju final tampak mulai menguntungkan: menghadapi Norwegia di perempat final, kemudian berpotensi bertemu Mesir, Swiss, atau Kolombia di semifinal jika berhasil lolos.

Kini situasinya berubah. Bayang-bayang Argentina dan Messi masih membentang sebagai rintangan besar yang mungkin harus dihadapi Inggris apabila mereka mampu menyingkirkan Norwegia yang berbahaya.

Dan Messi, bahkan di usia yang tidak lagi muda, tetap menjadi ancaman besar bagi lawan mana pun—sebuah pelajaran yang harus dibayar mahal oleh Mesir.

Pemain berusia 39 tahun itu menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol dalam enam pertandingan fase gugur secara beruntun.

Dia kini telah mengoleksi delapan gol pada edisi turnamen ini, jumlah terbanyak yang dicetak seorang pemain dalam lima pertandingan pertama Piala Dunia sejak Gerd Müller mencetak 10 gol untuk Jerman Barat di Meksiko pada 1970.

Tak hanya itu, Messi juga terlibat langsung dalam 16 gol dalam sembilan pertandingan Piala Dunia terakhirnya, dengan catatan 13 gol dan tiga assist.

Bagi Inggris, itulah yang paling mengkhawatirkan: Messi masih memiliki kemampuan untuk menambah statistik tersebut. Dan dari penampilannya, dia terlihat sangat siap untuk melakukannya.

Keterangan video, Fernández mencetak gol dengan 'tandukan kepala terbaik dalam kariernya'.

Argentina tetap menjadi kekuatan besar di panggung sepak bola dunia—memadukan permainan penuh kehalusan dengan mental baja, dengan Messi sebagai figur sentral yang menginspirasi tim.

Skuad asuhan Lionel Scaloni memahami satu hal: selama Messi masih berada di lapangan, selalu ada harapan.

Tapi, kekuatan Argentina tidak hanya bertumpu pada sang kapten. Tim ini juga dipenuhi pemain bertalenta serta memiliki naluri kompetitif yang enggan menerima kekalahan.

Sebagai juara bertahan, Argentina selalu menemukan cara untuk menang.

Mereka telah membuktikannya saat akhirnya menundukkan Tanjung Verde dengan skor 3-2 pada babak 32 besar. Tentu saja, memiliki Messi di tim menjadi keuntungan tersendiri.

Lionel Messi, Argentina, Mesir, Messi, Piala Dunia 2026

Sumber gambar, Julian Finney - FIFA/FIFA via Getty Images

Keterangan gambar, Lionel Messi dalam sebuah momen saat melawan Mesir di babak 16 besar.

Kemenangan atas Mesir juga mencatatkan rekor tersendiri.

Ini merupakan kali paling akhir sebuah tim tertinggal dua gol dalam pertandingan Piala Dunia sebelum berhasil membalikkan keadaan dan menang tanpa harus melalui perpanjangan waktu.

Berdasarkan data probabilitas kemenangan dari Opta, peluang Argentina untuk menang saat gol Cristian Romero tercipta hanya berada di angka 0,6%.

Di tengah persaingan ketat untuk menyandang status pertandingan terbaik turnamen—terutama setelah drama dan emosi yang mewarnai kemenangan Inggris 3-2 atas Meksiko di Stadion Azteca—laga Argentina kontra Mesir mungkin layak disebut sebagai pertandingan terbaik Piala Dunia sejauh ini.

Dan air mata Messi setelah peluit akhir menjadi pengingat bahwa, bahkan di usia 39 tahun, dia tetap tidak kebal terhadap emosi luar biasa yang dapat dihadirkan oleh sepak bola.