Kematian kurir paket di Korea Selatan ungkap sisi kelam layanan pengiriman ekspres

Sumber gambar, Getty Images
Seminggu sebelum putranya meninggal, Park Mi-suk sempat memintanya berhenti dari pekerjaannya.
Selama lebih dari setahun, putranya yang berusia 27 tahun, Jang Deok-jun, kerja sif malam di gudang milik Coupang—perusahaan ritel daring terbesar di Korea Selatan.
Tugasnya mengoperasikan kendaraan pemindah palet yang mengangkut tumpukan kotak plastik dan kardus di area gudang yang sangat luas.
Dalam kurun waktu itu, menurut Park, berat badan putranya turun hingga 15 kilogram. Jang juga kerap mengeluhkan kelelahan yang luar biasa.
Namun, Jang menolak berhenti bekerja. Ia mengibaratkan pekerjaannya seperti jungkat-jungkit: jika ia berhenti, rekan-rekan kerjanya akan semakin kesulitan menanggung beban pekerjaan.
Seminggu kemudian, Park menemukan putranya dalam keadaan tidak sadarkan diri, terkulai di bak mandi.
"Kami mengangkatnya dari bak mandi dan memberikan pertolongan pertama. Kami segera membawanya ke rumah sakit, tetapi di sana dokter menyatakan ia telah meninggal dunia."
Apa penyebab kematian Jang?
Jang meninggal akibat serangan jantung. Setelah melakukan penyelidikan, Comwel—lembaga asuransi milik pemerintah yang menangani perlindungan kesehatan para pekerja—menyimpulkan bahwa kematiannya berkaitan dengan kelelahan akibat bekerja secara berlebihan.
Hingga kini, Park menyesali karena tidak menyadari sejak awal betapa lelahnya sang putra.
"Saya tidak cukup memperhatikan apa yang dikatakan anak saya, dan karena itu saya kehilangan dia. Saya hanya berharap tidak ada lagi orang tua yang mengalami kesalahan yang sama."
Jang meninggal pada 2020. Namun, enam tahun kemudian, Park masih terus memperjuangkan perubahan terhadap praktik yang ia yakini menjadi penyebab kematian putranya: sistem pengiriman barang pada malam hari.
Jang meninggal ketika permintaan layanan pengiriman melonjak drastis selama pandemi Covid-19. Saat itu, lonjakan pesanan kerap dijadikan alasan atas beratnya beban kerja para pekerja gudang dan kurir.
Tapi, kondisi kerja para pekerja gudang dan kurir sekarang menjadi sorotan di Korea Selatan. Serikat pekerja menyebut, hingga kini masih ada dugaan kasus kematian akibat kelelahan bekerja yang terus terjadi.

Sumber gambar, DOKUMENTASI KELUARGA
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Layanan pengiriman pada malam hari telah menjadi hal yang umum di Korea Selatan, sebab konsumen dijamin mendapatkan barangnya sebelum pukul 07.00 pagi selama pesanan dilakukan sebelum tengah malam.
Kemudahan itu ditopang oleh puluhan ribu pekerja yang bekerja sepanjang malam, mulai dari pekerja gudang seperti Jang hingga para kurir.
Sejumlah perusahaan saling bersaing menawarkan layanan pengiriman yang cepat dengan biaya murah. Tetapi, pemain terbesar di industri ini adalah Coupang.
Didirikan oleh seorang pengusaha Korea-Amerika, Coupang mulai identik dengan belanja daring di Korea Selatan sejak 2015, ketika perusahaan tersebut meluncurkan layanan pengiriman bahan makanan segar dalam semalam.
Sejak itu, Coupang berkembang pesat hingga memiliki jaringan gudang dan armada pengiriman terbesar di negara itu, dengan hampir 100.000 karyawan.
Namun, di balik pertumbuhannya yang pesat, industri pengiriman cepat kini semakin mendapat sorotan terkait kondisi kerja para pekerjanya.
Apa kaitan antara bekerja sif malam dan kematian?
Antara tahun 2020 hingga Mei 2026, Comwel menyatakan bahwa 46 pekerja gudang dan kurir pengiriman—termasuk Jang—meninggal akibat stroke atau penyakit jantung yang dikategorikan sebagai kematian terkait pekerjaan.
Selain kasus Jang, tidak diketahui secara pasti berapa banyak dari mereka yang bekerja pada sif malam.
Comwel juga tidak mengungkapkan berapa banyak kasus yang diselidiki lebih lanjut untuk mengetahui apakah kelelahan akibat bekerja berlebihan menjadi penyebab kematian.
Baca juga:
Penyelidikan semacam itu hanya dilakukan jika keluarga korban mengajukannya untuk klaim kompensasi. Selain itu, tidak semua kasus kematian pekerja dilaporkan kepada Comwel, sehingga data yang tersedia belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.

Sumber gambar, BBC/Hosu Lee
Data Comwel sebelumnya menunjukkan pekerja kurir pengiriman yang bekerja pada siang hari lebih sering meninggal akibat kelelahan kerja maupun kecelakaan dibandingkan pekerja sif malam.
Namun, kesimpulan tersebut kini mulai dipertanyakan. Sejumlah pihak menilai layanan pengiriman malam berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, sementara data yang tersedia belum cukup untuk menggambarkan dampaknya secara menyeluruh. Serikat pekerja juga berpendapat bahwa bekerja pada malam hari lebih berbahaya bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Badan Riset Kanker Internasional (IARC), yang berada di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengklasifikasikan kerja malam sebagai salah satu faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko kanker.
Baca juga:
Menurut Kang Mo-yeol, profesor kedokteran okupasi di Catholic University of Korea, "bukti ilmiah juga terus menunjukkan bahwa kerja malam meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, hingga gangguan kesehatan mental".
Berbeda dengan Inggris, Korea Selatan tidak memiliki aturan yang membatasi jam kerja pada malam hari. Di Inggris, misalnya, pengemudi yang bekerja pada shift malam tidak diperbolehkan bekerja lebih dari 10 jam dalam periode 24 jam.
Pada 2025, serikat pekerja kurir di Korea Selatan menyerukan penghentian layanan pengiriman semalam. Tapi, serikat pekerja yang mewakili para pengemudi Coupang menyatakan hampir seluruh anggotanya justru memilih bekerja pada malam hari.
'Bekerja malam hari karena tak punya pilihan'
Bagi sebagian pekerja, bekerja pada malam hari bukan sekadar pilihan. Ada yang harus mengurus anak, orang tua lanjut usia, atau anggota keluarga yang sakit pada siang hari. Selain itu, pekerjaan malam juga menawarkan penghasilan yang lebih besar.
"Saya tidak mungkin melakukan pekerjaan ini seumur hidup karena lama-kelamaan tubuh saya akan rusak," kata Kim, seorang kurir Coupang yang bekerja sebagai mitra subkontrak dan meminta identitasnya disamarkan.
Meski demikian, ia mengaku gaji sekitar 7 juta won per bulan (sekitar Rp85 juta)—hampir dua kali lipat rata-rata pendapatan nasional Korea Selatan—membuat pekerjaan itu tetap layak dijalani.
Saat BBC menemuinya pada pukul 22.00, Kim baru saja selesai memuat truknya dengan paket-paket yang akan dikirim pada putaran pertama.

Sumber gambar, Getty Images
Sambil menyusuri jalan-jalan sempit di Kota Incheon, di sebelah barat Seoul, Kim menjelaskan bahwa ia bekerja dari pukul 21.00 hingga 07.00, selama lima hingga enam hari setiap pekan.
Jadwal kerjanya nyaris tidak menyisakan waktu untuk beristirahat. Setiap kali truk berhenti, ia langsung berlari membawa paket menuju alamat tujuan.
Menurutnya, hampir semua kurir dibayar berdasarkan jumlah paket yang berhasil diantarkan. Jika mereka gagal menyelesaikan seluruh pengiriman sebelum pukul 07.00, ada risiko kehilangan "wilayah" pengiriman mereka kepada kurir lain.
Pada awalnya, istrinya yang sedang hamil khawatir Kim akan tertidur saat mengemudi. Namun, Kim mengatakan dirinya kini sudah terbiasa. Bahkan, ia merasa lebih mudah berkendara pada malam hari karena jalanan jauh lebih lengang.
"Kami memilih bekerja mengantar paket pada malam hari karena penghasilannya lebih besar," ujar Kim.
Menurutnya, orang-orang yang menuntut agar layanan pengiriman malam dihentikan dengan alasan membahayakan kesehatan pekerja sering kali mengabaikan kenyataan bahwa para kurir sendiri telah membuat pilihan tersebut demi mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Tapi, menurut Park, ibu Jang, para pekerja seperti Kim semakin tak terlihat di tengah tingginya permintaan masyarakat akan layanan pengiriman cepat. Semakin banyak orang menikmati kemudahan tersebut, semakin dianggap biasa pula kondisi kerja yang menopangnya.
Park menyampaikan hal itu saat ditemui BBC di depan kantor pusat Coupang di Distrik Songpa, Seoul. Berdiri seorang diri di depan gerbang perusahaan, ia berusaha mengingatkan para karyawan yang keluar untuk makan siang agar tidak melupakan putranya dan pekerja lain yang bernasib serupa. Namun, hanya sedikit yang memperhatikannya.
Park mengatakan, salah satu tantangan terbesar adalah sulitnya meminta pertanggungjawaban perusahaan dalam kasus seperti yang menimpa Jang.
Menurutnya, beban untuk membuktikan bahwa putranya meninggal akibat bekerja berlebihan sepenuhnya berada di pihak keluarga.
Sementara itu, Coupang hanya diwajibkan menyerahkan dokumen-dokumen, termasuk rekaman kamera pengawas (CCTV), kepada Comwel, bukan kepada keluarga korban.

Sumber gambar, BBC/Hosu Lee
Setelah berbulan-bulan mendesak anggota parlemen dan berbagai lembaga pemerintah, Park akhirnya berhasil memperoleh catatan jam kerja serta rekaman CCTV yang berkaitan dengan aktivitas kerja Jang.
Data yang dimiliki Park menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan sebelum meninggal, jam kerja Jang telah memenuhi ambang batas yang digunakan dalam hukum Korea Selatan untuk mengategorikan kematian akibat bekerja berlebihan.
Aturan itu menetapkan bahwa serangan jantung atau stroke dapat dinilai sebagai kematian terkait pekerjaan apabila pekerja memiliki rata-rata jam kerja 60 jam per minggu selama 12 minggu berturut-turut, atau 64 jam per minggu dalam empat minggu menjelang kematiannya.
Sesuai aturan Comwel, setiap jam kerja Jang pada shift malam dihitung 30% lebih tinggi dalam perhitungan total beban kerjanya, sebagai pengakuan bahwa bekerja pada malam hari memiliki risiko kesehatan yang lebih besar.
Kematian kurir yang terus bertambah
Di tengah perjuangannya mencari keadilan, Park dihadapkan pada perkembangan baru. Media lokal mempublikasikan isi percakapan yang diklaim berasal dari mantan direktur privasi (Chief Privacy Officer) Coupang dengan Direktur Utama Coupang, Bom Kim.
Dalam percakapan yang bocor tersebut, Bom Kim disebut meminta eksekutif perusahaan menghapus penyebutan bahwa Jang "bekerja sangat keras" dari laporan internal.
Frasa itu sebelumnya digunakan oleh beberapa karyawan untuk menggambarkan kondisi kerja Jang saat sif terakhir sebelum meninggal. Coupang membantah tuduhan tersebut dan menyebut klaim itu tidak berdasar serta berasal dari mantan eksekutif yang menyimpan kekecewaan terhadap perusahaan.
Tapi, serikat pekerja menuding Coupang berupaya menutupi bukti dan kemudian mengajukan laporan pidana. Polisi pun memulai penyelidikan terhadap Coupang pada Desember 2025.
Perusahaan membantah tuduhan tersebut dan menegaskan telah menyerahkan seluruh dokumen yang diminta serta bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan yang dilakukan Comwel.

Sumber gambar, BBC/Hosu Lee
Ketika penyelidikan itu berlangsung, muncul pula kasus lain yang menyita perhatian publik. Oh Seung-yong, seorang kurir berusia 34 tahun, meninggal dunia setelah truk yang dikendarainya menabrak sebuah tiang saat sedang mengantarkan paket. Comwel kemudian menetapkan kematian Oh sebagai "kematian terkait pekerjaan", yang berarti pekerjaannya dinilai turut berkontribusi terhadap insiden tersebut.
Di hadapan parlemen Korea Selatan, kakak perempuan Oh mengungkapkan catatan kerja adiknya menunjukkan ia bekerja enam hari dalam seminggu, lebih dari 11 jam setiap hari, dan sebagian besar dilakukan pada malam hari.
Ia juga menceritakan ketika ayah mereka meninggal beberapa hari sebelumnya, Oh masih menyelesaikan pengiriman paket selama sekitar empat jam sebelum akhirnya pergi ke rumah sakit. Oh bekerja untuk sebuah perusahaan logistik yang menjadi mitra kontrak Coupang.
Coupang menyatakan perusahaan membatasi jam kerja karyawannya hingga kurang dari 52 jam per minggu. Perusahaan juga mengklaim memberikan libur akhir pekan penuh setiap dua minggu sekali bagi para pengemudi yang bekerja melalui perusahaan mitra. Namun, serikat pekerja menuding aturan tersebut tidak diterapkan oleh perusahaan tempat Oh bekerja.
Selain itu, Coupang mengatakan seluruh biaya pemeriksaan kesehatan bagi karyawan maupun pengemudi mitra ditanggung oleh perusahaan. Coupang juga mengklaim belum pernah mengalami satu pun kematian akibat kecelakaan kerja di lingkungan operasionalnya, yang menurut perusahaan merupakan catatan keselamatan terbaik di industri logistik global.
CEO Coupang, Harold Rogers, dipanggil oleh parlemen Korea Selatan pada Desember 2025 untuk memberikan keterangan terkait kematian Jang Deok-jun dan Oh Seung-yong.
Dalam sidang yang sama, ia juga dimintai pertanggungjawaban atas kebocoran data yang menimpa perusahaannya dan melibatkan sekitar 37,5 juta pengguna. Insiden tersebut merupakan kebocoran data terbesar dalam sejarah Korea Selatan dan berujung pada denda senilai US$410 juta terhadap Coupang.
Dalam sidang yang disiarkan secara langsung di televisi, Park Mi-suk meminta agar Ketua Coupang, Bom Kim, dimintai pertanggungjawaban atas kematian putranya.
Sementara itu, kakak perempuan Oh Seung-yong menuntut permintaan maaf langsung dari Rogers. Rogers menyatakan dirinya "menyesal" dan menyampaikan "belasungkawa yang sedalam-dalamnya". Tapi, ketika didesak untuk memberikan tanggapan lebih lanjut, ia memilih bungkam.
Apa solusi yang ditawarkan pemerintah Korsel?
Penyelidikan terhadap Coupang juga memunculkan tantangan politik bagi Presiden Lee Jae Myung. Lee, yang mengalami disabilitas pada lengan kirinya akibat kecelakaan saat bekerja di sebuah pabrik pada masa muda, menjadikan pengurangan angka kecelakaan dan kematian di tempat kerja sebagai salah satu prioritas pemerintahannya.
Kisah Jang dan Oh menyentuh banyak orang di Korea Selatan, negara yang dikenal dengan budaya kerja yang sangat berat. Jam kerja yang panjang bukanlah hal yang luar biasa di sana.
Korea Selatan juga masih mencatat salah satu tingkat kematian akibat kerja tertinggi di antara negara-negara maju, sebuah persoalan yang telah berupaya diatasi pemerintah selama beberapa dekade.

Sumber gambar, SeongJoon Cho/Bloomberg via Getty Images
Pemerintah sebelumnya telah membatasi jam kerja maksimal menjadi 52 jam per minggu serta mengesahkan undang-undang yang memungkinkan para eksekutif perusahaan dipidana apabila terbukti lalai sehingga menyebabkan kematian pekerja di tempat kerja.
Di sisi lain, untuk mengurangi dominasi Coupang di pasar, partai yang berkuasa sempat mengusulkan pelonggaran aturan agar lebih banyak perusahaan ritel dapat menyediakan layanan pengiriman semalam.
Namun, usulan tersebut memicu penolakan dari serikat pekerja, aktivis, dan Park. Mereka menilai persoalannya bukan hanya terletak pada Coupang, melainkan pada sistem industri pengiriman cepat secara keseluruhan yang masih bergantung pada beban kerja berlebihan.

Sumber gambar, DOKUMENTASI KELUARGA
"Sejak anak saya meninggal, saya seperti terus berkeliaran di jalanan," kata Park.
Selama bertahun-tahun memperjuangkan kompensasi dan mencari kejelasan atas kematian putranya, Park terpaksa menutup usaha pembuatan furnitur yang selama ini menjadi sumber penghidupannya. Ia juga tidak lagi mampu mempertahankan rumah lamanya dan akhirnya pindah ke sebuah apartemen sewa di Kota Daegu.
Hingga kini, Park masih menyimpan seluruh barang peninggalan Jang, termasuk koleksi figur aksi kesayangannya. Semua barang itu tersimpan rapi di dalam sebuah kotak di apartemen barunya.
Ia mengaku belum siap mengucapkan selamat tinggal kepada putranya. Begitu pula dengan perjuangannya yang belum ingin ia akhiri.
Park kemudian mengenang perkataan Jang yang pernah mengibaratkan pekerjaannya seperti bermain jungkat-jungkit: jika ia berhenti, rekan-rekan kerjanya akan menanggung beban yang lebih berat.
Namun kini, Park memaknai perumpamaan itu secara berbeda.
Menurutnya, di satu sisi jungkat-jungkit ada Jang bersama puluhan ribu pekerja lain yang bekerja keras sepanjang malam. Di sisi lainnya ada para konsumen yang menikmati kemudahan layanan pengiriman cepat.
"Saya berharap kita tidak menjadi masyarakat yang menutup mata terhadap pengorbanan orang lain hanya demi sedikit kenyamanan," ujar Park.































