Vozinha, kiper 40 tahun dari Tanjung Verde yang menahan gempuran Spanyol

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Elizabeth Conway
- Peranan, Reporter Piala Dunia
- Melaporkan dari, Atlanta Stadium
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Saat peluit akhir bergema di Stadion Atlanta, kamera beralih ke kiper Tanjung Verde, Vozinha.
Air mata mengalir pada wajah pemain berusia 40 tahun itu setelah timnya bermain imbang 0-0 melawan favorit juara Piala Dunia, Spanyol.
Tribun stadion bergemuruh oleh teriakan ribuan pendukung Tanjung Verde, yang menyemangati tim mereka tanpa henti selama 90 menit. Mereka merayakan hasil imbang itu dengan berpelukan dan menari.
Di lapangan, para pemain berlari saling mendekat dalam kegembiraan. Bahkan penonton yang tidak memihak Tanjung Verde ataupun Spanyol turut terbawa suasana. Saat pertandingan usai, banyak dari mereka ikut merayakan.
Melawan Spanyol yang notabene merupakan juara Eropa, kiper veteran Vozinha menampilkan performa terbaik sepanjang hidupnya. Dia berhasil menjaga gawangnya tidak kebobolan sehingga menuai hasil paling bersejarah dalam sejarah sepakbola negaranya.
"Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya," kata Vozinha setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.
"Sayangnya mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, segalanya dalam hidup saya.
"Dan juga karena ibu saya. Dia tidak bisa hadir karena visa. Karena biaya yang harus dibayar untuk visa, kami tidak berhasil mendapatkannya tepat waktu. Saya ingin dia ada di sini."
Ia menambahkan: "Senjata terbaik kami adalah persatuan kami. Terlepas dari pemain yang datang hari ini, atau pemain yang berusia 10 atau 15 tahun, cara kami memperlakukan keluarga adalah kekuatan terbesar kami.
"Semua orang berpikir kami datang ke sini hanya untuk menikmati Piala Dunia, tetapi tidak. Kami tahu ada tim-tim yang selalu kami hormati, karena ini pertama kalinya bagi kami, tetapi kami di sini untuk bersaing dan kami di sini untuk berjuang demi negara kami."
'Ini sudah menjadi mimpi sejak saya kecil'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Bagi Vozinha, momen ini merupakan hasil dari perjalanan seumur hidup.
Lahir dengan nama Josimar Dias, kiper Tanjung Verde itu telah menghabiskan seluruh kariernya mengejar impian tampil di Piala Dunia. Ketika akhirnya terwujud, momen itu datang dengan catatan sejarah.
Pada usia 40 tahun dan 12 hari, ia menjadi pemain tertua yang tampil dalam pertandingan debut Piala Dunia suatu negara, melampaui rekor yang dibuat Eloy Room dari Curacao.
Faktanya, hanya Essam El Hadary dari Mesir yang lebih tua saat menjalani debut Piala Dunia.
Ini merupakan pencapaian luar biasa dalam karier yang ditandai dengan ketekunan.
Baca juga:
"Saya mulai bermain sepak bola profesional ketika berusia 25 tahun, pada 2012. Itu terlambat bagi orang seperti saya," kata Vozinha.
"Saya sempat berpikir untuk meninggalkan tim nasional, tetapi kemudian saya melanjutkan karena mimpi ini.
"Performa ini adalah untuk semua orang. Saya adalah pemain terbaik pertandingan, tetapi penghargaan ini untuk semua rekan saya, karena tanpa mereka, tidak ada yang mungkin. Dan saya akan terus bekerja untuk tim dan untuk rakyat."
Tanjung Verde terletak hampir 600 km di lepas pantai barat Afrika, kepulauan yang indah namun terisolasi. Peluang bagi pemain sepak bola muda terbatas.
Tumbuh di Mindelo, Vozinha menghadapi tantangan sejak awal.
"Saya adalah salah satu kiper terbaik di pulau saya, tetapi saya bertubuh kecil," kenangnya.
"Bahkan ketika saya tampil baik, saya tidak dipilih karena tinggi badan saya."

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Seperti banyak pemain sebelumnya, ia akhirnya pergi ke Portugal, negara yang pernah menjajah Tanjung Verde, untuk mencari peluang.
Keputusan itu menandai awal karier yang membawanya ke Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus.
Kini Vozinha bermain untuk klub divisi kedua Portugal, Chaves.
Bahkan nama Vozinha menyimpan bagian dari sejarah sepak bola.
Ayahnya berharap menamainya "Valdano", mengikuti legenda Argentina dan Real Madrid, Jorge Valdano, tetapi otoritas Tanjung Verde menolak.
Sebagai gantinya, ia dinamai Josimar, mengikuti bek Brasil yang mencuri perhatian di Piala Dunia 1986.
Beberapa dekade kemudian, di panggung Piala Dunia, Vozinha telah menciptakan sejarahnya sendiri.
'Vozinha membuat pertandingan ini menyala'
Didukung oleh ribuan pendukung Tanjung Verde, Vozinha berdiri kokoh menghadapi serangan tanpa henti Spanyol.
Dia melakukan tujuh penyelamatan krusial. Satu-satunya kiper berusia di atas 40 tahun yang pernah mencatatkan penyelamatan lebih banyak dalam satu pertandingan Piala Dunia adalah Pat Jennings dengan 10 penyelamatan pada ulang tahunnya yang ke-41 saat Irlandia Utara melawan Brasil pada 1986.
Setiap penyelamatan Vozinha disambut gegap gempita para pendukung Tanjung Verde di Atlanta, seolah-seolah tim tersebut telah mencetak gol.
Di luar stadion, ia juga menjadi sensasi viral. Jumlah pengikutnya di Instagram meningkat dari 50.000 menjadi lebih dari 1,5 juta setelah CazeTV—saluran YouTube yang memiliki hak siar Piala Dunia di Brasil—mengajak penonton mereka untuk mengikutinya.
"Gila," ujar Vozinha kepada wartawan saat diberi tahu tentang hal tersebut.

Sumber gambar, Getty Images
Mantan pemain sayap Skotlandia Pat Nevin mengatakan kiper itu "membuat pertandingan tadi menyala".
"Dia benar-benar luar biasa," kata Nevin kepada BBC.
"Dia melakukannya pada usia 40 tahun. Semua kamera tertuju padanya, semua pemainnya menunjuk kepadanya. Ini momen yang indah.
"Tanjung Verde menghabiskan sebagian besar pertandingan di dalam kotak penalti mereka sendiri. Ketika mereka menyerang balik, mereka melakukannya dengan berani dan dalam jumlah banyak.
"Untuk melakukan itu dan mempertahankan tingkat konsentrasi tersebut, sebuah tim tidak bisa melakukannya jika mereka hanyalah kumpulan individu. Sebuah tim hanya bisa melakukannya jika bermain sebagai sebuah tim."
Mantan pemain timnas Inggris, Lee Dixon, menambahkan di ITV: "Benar-benar fantastis. Performa yang brilian. Mereka lebih pantas mendapatkan satu poin dibanding apa pun. Spanyol hampir tidak pantas mendapatkannya. Mereka meninggalkan lapangan dengan kecewa, tetapi malam ini adalah milik Tanjung Verde.
"Performa luar biasa dari setiap pemain, bek tengah, bek sayap, pria itu di sana [Vozinha] menangis. Saya hampir ikut menangis."
Bagi sebuah negara dengan populasi lebih dari setengah juta jiwa, yang merupakan negara terkecil ketiga yang pernah lolos ke Piala Dunia, itu adalah hasil yang sangat berarti.
Di tribun, para pendukung mereka menyamai intensitas tersebut.
Berpakaian biru dan mengibarkan bendera merah, putih, dan biru, mereka bernyanyi dan menari sepanjang pertandingan, menyemangati para pemain melalui setiap momen sulit.
Saat peluit akhir berbunyi, para penonton netral telah terpikat.
Kisah Tanjung Verde telah menjadi kisah semua orang.
Sebuah negara kepulauan kecil telah memikat dunia sepak bola.





























